Membaca berita tentang perceraian publik figur dengan caption cinta sendirian, jadi teringat tulisan lama.
Pernikahan adalah salah satu ladang pahala yang luas. Nafkah suami ke istri dihitung sebagai sedekah, ketaatan istri kepada suami jadi jalan menuju surga, sabar menghadapi kekurangan pasangan pun bernilai pahala, bahkan bercandaanya suami istri tercatat sebagai ibadah.
Lalu, bagaimana jika tujuan itu nggak tercapai?, gak semua takdir pernikahan itu sama, misalnya ketika cinta hanya sepihak dan salahsatu pihak nggak lagi mampu menjalani kewajibannya.
Situasi seperti ini pernah dialami oleh seorang istri sahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam, istri Tsabit bin Qais radhiyallahu ‘anhu. Dalam riwayat disebutkan, sang istri datang mengadu kepada Nabi dan berkata:
“Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Akan tetapi aku khawatir akan kufur (durhaka), karena aku tidak mencintainya.” (HR. Bukhari, no. 5273; Muslim, no. 1480)
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun bertanya, “Apakah engkau bersedia mengembalikan kebun yang diberikan Tsabit kepadamu?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan Tsabit untuk menceraikannya.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa persoalan rumah tangga bukan sekadar ada atau tidak adanya cinta. Yang lebih penting tujuan dari pernikahan itu menjaga agama dan menghindarkan diri dari dosa.
Jika perasaan membuat salah satu pihak takut jatuh pada nusyuz dan durhaka kepada suaminya, maka Islam memberi jalan keluar dengan cara yang baik, yaitu khulu’ (istri meminta cerai ke suami).
Tentunya kisah ini harus dibaca dan dipahami secara bijaksana.
(Kang Irvan Noviandana)






