MBG itu sebenarnya program yang didasari niat baik, TAPI….

✍🏻Wendra Setiawan

MBG itu sebenarnya program yang didasari niat baik: Memberi asupan gizi yang cukup untuk anak-anak Indonesia.

Masalahnya, sebagian besar orang Indonesia selalu ingin hasil yang instan. Males banget kalau disuruh berproses. Nggak rakyatnya, nggak perjabatnya. Sama saja.

Mau kaya? Lewat judi, atau nyolong uang perusahaan/negara. Makanya, judol dan korupsi sangat digemari.

Mau kurus? Minum obat pengurus. Olahraga? Males. Selain kelamaan, juga bikin capek.

Mau menang Pilpres? Gandeng anak mantan.

MBG ini juga sama. Karena sebuah janji utama politik, eksekusinya harus cepat-cepat biar dianggap pemimpin yang menepati janji.

Proses seperti penelitian daerah mana yang paling banyak terjadi kasus kekurangan gizi, penelitian gizi seperti apa yang pantas diberikan kepada anak-anak untuk berbagai jenjang usia dan pendidikan, persiapan anggaran, siapa penyelenggaranya, dilewati semua. Pokoknya begitu menjabat harus segera berjalan.

Mereka lupa, tidak semua anak Indonesia kekurangan gizi. Tidak semua anak-anak berangkat sekolah dalam keadaan perut kosong. Tidak semua yang sarapan nilai menunya di bawah 10 ribu. Semua dipukul rata. Padahal program ini akan jadi jauh lebih baik dan lebih tepat sasaran jika diberikan pada anak-anak yang membutuhkan.

Tapi untuk menyeleksi penerima MBG ini butuh proses. Ini yang tidak disukai pejabat-pejabat kita.

Penyelenggara yang ditunjuk juga sama saja. Serba instan!

Tahu berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mendirikan dapur MBG? Antara 1 sampai 2 miliar. Itu di luar tanah yang syaratnya harus lebih dari 400 meter persegi.

Jadi hampir tidak mungkin yang ditunjuk untuk menyediakan dapur MBG ini UMKM, kantin sekolah, atau katering-katering kecil lainnya. Mana punya mereka uang nganggur segitu. Misal ambil kredit ke bank pun prosesnya lama.

Akhirnya ya diserahkan ke pengusaha besar biar cepat dibangun.

Lalu soal menu dan kualitas makanan. Tahu berapa jumlah porsi yang harus disediakan oleh dapur MBG setiap hari?

Sekitar 2.500 hingga 3.500 porsi per hari.

Restoran-restoran besar saja jarang sekali harus menyediakan porsi sebanyak ini dalam satu hari di satu cabangnya.

Bayangkan jika penyediaan porsi sebanyak ini diserahkan kepada orang-orang yang hampir tidak pernah bergelut dalam dunia kuliner. Jangan heran kasus siswa-siswi keracunan hampir setiap saat muncul di berbagai daerah.

Padahal alangkah baiknya jika pemerintah menunjuk kantin-kantin sekolah yang sudah berpengalaman untuk menyediakan MBG ini, dengan standar gizi yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak-anak. Gizi yang dibutuhkan anak SD pasti berbeda dengan gizi yang dibutuhkan anak SMP atau SMA.

Dengan begini kemungkinan besar gizi anak terpenuhi, ekonomi berjalan karena proyeknya tidak hanya dikuasai oleh pengusaha-pengusaha besar, dan anggaran yang dikeluarkan pun tidak akan sefantastis sekarang.

Tapi yang begini kan butuh proses yang tidak sebentar. Sementara survei kepuasan harus setiap saat dirilis demi menyongsong 2029.

Mau tidak mau pilih cara instan.

Cuma jadinya ya begitu. Anggaran terlanjur membengkak, perekonomian tidak terstimulus, tapi tujuan hampir tidak tercapai. Sebagian anggaran ini cuma berubah jadi isi septictank.

Yang menikmati cuma pengusaha besar dan yayasan yang isinya kroni-kroni.

Akhirnya cuma bisa curhat banyak yang tidak ingin MBG ini sukses di depan pendukung, sambil menyuruh Qodari mencatat siapa saja yang memprotes program ini.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar