
Setelah semua kericuhan ini selesai, gue harap para pejabat jangan joget-joget lagi. Itu semua warisan Jokowi yang lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya.
Pak Harto sekiranya sudah benar. Upacara 17 Agustus di istana negara itu harus tertib dan khidmat. Penaikan dan penurunan sang saka merah putih tak bisa dicampur adukkan dengan joget dangdutan.
Legacy pak Harto itu sejatinya sudah diteruskan oleh BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY. Baru ditambah acara joget dan dangdutan saat Jokowi berkuasa.
Gedung parlemen yang seharusnya menjadi tempat yang serius untuk membahas nasib rakyat malah ditambahi dengan pagelaran busana daerah dan joget-joget. Siapa yang memulai itu semua? Ya Jokowi.
Pejabat digaji lebih tinggi dari kebanyakan rakyat jelata, difasilitasi dengan berbagai tunjangan, bukan untuk cengengesan, joget-joget, nyanyi-nyanyi, tidur. Seharusnya jidat para pejabat itu tak berhenti mengkerut, karena banyak persoalan bangsa yang membutuhkan penanganan serius.
Pakai kostum aneh-aneh saat sidang paripurna. Joget-joget di istana negara dan gedung parlemen, semua itu legacy Jokowi yang tak perlu dilanjutkan.
Tapi ya sudahlah. Bangsa ini memang lebih suka dipimpin oleh orang bodoh ketimbang orang cerdas seperti almarhum BJ. Habibie. Kita lebih suka melihat pemimpin berjoget daripada pemimpin yang selalu serius kalo berbicara tentang nasib rakyat.
Dan sangat disayangkan, seorang mantan Jenderal Kopassus seharusnya bisa meniru leadership BJ Habibie. Tapi demi syahwat akan kekuasaan, ia malah bertransformasi menjadi badut gemoy yang menggemaskan.

(✍️Ruby Kay)







Komentar