Makin NGAWUR

Dear Pejabat,

1. Faktor ekonomi. Artinya, keluarga mereka miskin, jadi jangankan buat sekolah, buat beli beras saja susah. Pun beli seragam, buku, sepatu, dll. Sekolah gratis itu ‘halu’, saat keluarga mereka miskin.

2. Anak terpaksa bekerja. Ini juga ada kaitannya dengan penyebab pertama, sejak kecil anak terpaksa ikut membantu beban keluarga. ‘Keasyikan’ nyari duit, tidak mau sekolah lagi.

3. Pernikahan dini. Ini sering terjadi pada anak perempuan. SMA, kelas satu menikah misalnya, selesai sudah pendidikannya.

4. Merasa pendidikan tidak penting, atau bisa baca tulis sudah cukup. Nah, ini juga faktor signifikan. Termasuk yg mikirnya: buat apa sekolah tinggi2, toh yg bisa kerja di pabrik, jadi aparat, yg bisa nyuap, punya ordal juga.

5. Aksesibilitas, sekolah jauh, jalanan rusak, dll, ini juga bisa menyebabkan putus sekolah. Tapi kecil persentasenya

6. Anak tsb disabilitas, ini juga bisa, karena sekolah reguler tdk bisa mengajarinya. Kesulitan. Lagi2 ini kecil persentase penyebabnya

7. Bencana alam. Ini jelas sekali, tapi biasanya temporer, dan juga kecil persentasenya.

Saya itu, jelek-jelek begini, mengunjungi tidak terhitung sekolah-sekolah, dari Aceh sampai Papua. Dari sekolah yang bagai resort mewah, sampai sekolah-sekolah yg bagai kandang kambing dgn murid-murid tanpa alas kaki, tanpa seragam. Saya TIDAK pernah nemu anak putus sekolah gara-gara: nggak punya uang jajan, jadi tdk mau sekolah.

Yang ada itu, banyak anak-anak kita rela TIDAK jajan biar bisa sekolah. Sedihnya, bahkan mereka sudah begitu pun, karena keluarganya miskin, tetap terpaksa berhenti, ikut bantu orang tua. Jadi akar masalah utamanya: pekerjaan dan penghasilan orang tuanya rendah.

Sedihnya lihat pejabat-pejabat ini, hanya demi menjilati atasan, demi jabatan kekuasaan, mereka mengabaikan fakta-fakta. Dia harusnya tahu sekali penyebab anak putus sekolah. Bukan asal ngarang.

Orang-orang ini, jika besok rezim berganti, dia balik lagi ke kampus, jadi akademisi, wah wah mendadak kritis dan bisa lurus pola pikirnya. Sudah banyak contohnya. Itulah kenapa jabatan itu bisa membuat kalian gila betulan.

(Tere Liye)

Komentar