Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sejatinya lahir dari niat baik: memastikan anak-anak Indonesia tidak lagi kekurangan gizi ketika menempuh pendidikan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya sisi lain yang patut menjadi perhatian serius. Kasus keracunan yang menimpa sejumlah siswa penerima manfaat program ini, meski secara statistik disebut hanya 0,0017% oleh Presiden Prabowo, tetaplah sebuah tragedi yang tak bisa diabaikan.
Angka memang sering meninabobokan. Dari sudut pandang makro, 0,0017% terlihat sepele, bahkan bisa dianggap keberhasilan karena mayoritas anak-anak tidak mengalami masalah. Akan tetapi, di balik angka itu ada nyawa, ada rasa sakit, ada keluarga yang cemas. Pertanyaannya sederhana: siapa yang rela menjadi bagian dari 0,0017% tersebut? Dalam urusan kesehatan anak, logika statistik tidak bisa menjadi tameng moral.
Pernyataan Profesor Mahfud MD dalam sebuah podcast menambah dimensi lain. Ia mengungkapkan bahwa cucu ponakannya sendiri pernah keracunan makanan MBG di sebuah sekolah di Yogyakarta. Cerita ini menunjukkan bahwa persoalan ini nyata, bukan sekadar rumor atau kasus sporadis di daerah terpencil. Jika seorang keluarga dari tokoh nasional bisa terkena dampak, bagaimana dengan ribuan anak dari keluarga biasa yang mungkin tak memiliki akses memadai untuk melapor atau mendapatkan perawatan cepat?
Masalah utama dari MBG bukan pada ide dasarnya, melainkan pada eksekusinya. Distribusi makanan untuk jutaan anak bukanlah perkara sederhana. Ada rantai panjang dari dapur hingga piring siswa: mulai dari standar kebersihan penyedia, pengawasan mutu, hingga sistem distribusi. Satu kelalaian kecil bisa berujung fatal. Inilah yang seharusnya menjadi fokus pemerintah, bukan sekadar berlindung di balik persentase yang kecil.
Ke depan, MBG hanya akan benar-benar bermakna jika kualitas dan pengawasan ditingkatkan secara serius. Setiap anak harus mendapatkan jaminan bahwa makanan yang masuk ke tubuh mereka aman dan layak, tanpa kecuali. Karena pada akhirnya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi bagian dari 0,0017% itu.







Komentar