




Dr. Meilanie Buitenzorgy, S.Si., M.Sc. adalah seorang akademisi dan dosen tetap di IPB University. Namanya menjadi sorotan publik secara luas setelah ia memberikan analisis kritis terkait penyetaraan ijazah luar negeri milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui media sosial.
Biodata dan Latar Belakang Akademik
Sebagai seorang akademisi, Dr. Meilanie memiliki rekam jejak pendidikan internasional yang kuat di bidang ekonomi lingkungan:
- S1 Sarjana Sains (S.Si.): Lulus dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University pada tahun 1999.
- S2 Magister Sains (M.Sc.): Meraih gelar magister dari Wageningen University, Belanda, pada tahun 2006.
- S3 Philosophiae Doctor (PhD): Meraih gelar doktor dari University of Sydney, Australia, dengan spesialisasi di bidang Environmental and Resource Economics (Ekonomi Lingkungan dan Sumber Daya).
Postingan terbaru Dr. Meilanie Buitenzorgy di fb menyoroti beberapa yang ngaku lulusan LN (Luar Negeri) yang membela Gibran setelah MK menyatakan Gibran tidak memiliki ijazah SLTA atau sederajat.
Nampak Bu Meilanie sangat sebel bangat lulusan LN yang membela Gibran dengan MEMBODOHI MASYARAKAT bukan dengan mengurai FAKTA.
Kalau saya sih mereka yang ngaku lulusan LN dan membela Gibran dengan membodohi masyarakat bukan hanya SETUPID TAPI JAHAT.
Berikut copas lengkap:
LULUSAN LN RAME-RAME BELA GIBRAN, PINTAR ATAU SETUPID?
“Emang ga boleh skip kelas XII SMA dengan program foundation/pathway? Kalau gaboleh, ada RATUSAN RIBU WNI yang ambil program pathway di LN, bukan cuma Gibran”
“Boleh, ASALKAN program foundation/pathway tersebut end-up LULUS dapat Certificate of Completion/Testamur”
“Kalau cuma dapat Certificate of Attendance?”
“Yak’olooo, artinya ya elu KAGAK LULUS, pea’!”
Hallo para lulusan LN yang pernah ambil program pathway/foundation, kalian ini jangan MEMBODOHI masyarakat awam.
Sini gua tanya:
-Program pathway/foundation elu LULUS apa kagak?
-Elu dapat Testamur/Certificate of Completion apa kagak?
-Elu yakin mau nyama-nyamain diri elu sama Gibran yang cuma dapat Certificate of Attendance?
-Elu yakin mau declare bahwa elu juga kagak lulus jenjang pendidikan setara SMA, sama kayak Gibran?
Yawdah sih semoga pembelaan-pembelaan ngawur elu di medsos DIBACA oleh HRD employer lu ya.
Anyway ini gw pake logika hirarki pendidikan jalur komersial ya, bukan jalur akademik standar. Kalau pakai jalur komersial, siswa disuruh skip kelas/year XII di SMA, diganti dengan foundation/pathway di universitas yang mau dituju. Program foundation/pathway tersebutlah yang oleh universitasnya dianggap sebagai pengganti year XII high school. Dengan mindahin kelas XII SMA lu ke program foundation universitas LN ini, kan elu BAWA DUIT banyak ke universitas tsb.
Tapi sekali lagi, elu baru bisa lanjut ke program Diploma/Bachelor, hanya kalau elu LULUS dari program pathway/foundation tsb.
Nah, di Indonesia, apakah program pathway tsb diakui setara dengan year XII SMA? Kalau dari penjelasan bu Atdikbud KBRI Australia di sidang MK, KBRI Australia mengganggap pathway TIDAK SETARA dengan year XII highschool, karena program pathway itu nempel di universitas bukan di high school, maka dianggap sebagai persiapan masuk universitas. Jadi setaranya kira-kira dengan program MATRIKULASI di jenjang pendidikan tinggi, bukan setara dengan tahun terakhir di jenjang pendidikan menengah. Artinya disini NKRI pakai logika jalur akademik standar, bukan logika jalur komersial.
Jadi:|
Program pathway/foundation itu dianggap SETARA dengan kelas XII SMA dari kacamata INTERNAL universitas penyelenggaranya. Jadi dianggap sebagai penambal lubang PENDIDIKAN MENENGAH, oleh si universitas penyelenggara.
Sedangkan dari kacamata penyetaraan pendidikan LN Indonesia yang pakai logika jalur akademik, program pathway/foundation itu dianggap setara dengan MATRIKULASI/persiapan kuliah di Universitas, jadi setaranya dengan Pendidikan Tinggi.
Paham ya bedanya?
Nah kalau elu bawa ijazah LN ke Indonesia untuk pekerjaan di pemerintahan termasuk WAPRES, kira-kira kacamata siapa yang dipake? Kacamata internal universitas lu, atau kacamata NKRI? Coba dijawab yang PINTER.
“Gw pathway, gak masalah tuh bisa dapet kerja di Multinational Company”
“Ya kan elu kerja di SWASTA pea’. Emang Perusahaan swasta tempat elu kerja minta elu submit SK penyetaraan ijazah? Hah?”
Apa pun itu, mau program pathway diakui atau tidak diakui setara kelas XII SMA oleh NKRI, persoalannya adalah GIBRAN KAGAK LULUS program pathway tersebut di UTS Insearch. Artinya secara substansial maupun administratif, rantai jejang pendidikan Gibran PUTUS di level secondary (pendidikan menengah).
Apa pun itu, kagak bakal ada masalah ijazah, kalau Gibran fokus jadi pengusaha catering. Kalau masuk ke sektor publik/pemerintahan ya ijazah LN mu harus disertifikasi Kementerian Pendidikan dengan SK Penyetaraan. Jangankan Wapres, kami aja yang cuma dosen, atau ASN dinas di daerah, wajib mengurus SK Penyetaraan. Tanpa itu, ijazah LN para ASN tidak diakui oleh NKRI.
Susah amat sih, sesimpel ini aja kagak paham-paham.








LULUSAN LN RAME-RAME BELA GIBRAN, PINTAR ATAU SETUPID?/??// ” IDIOT ”
SESAMA IDOT PENIPU YA SALING MEMBELA LAH, MASTERNYA SI KURAP KODOK
Ngambil istilah Gus Dur, dr pantat ayam itu bisa keluar tahi atau telor. Gibran ini ibarat tahi ayam yg sama2 keluar dr pantat tp jelas bukan telor. Yg lbh ngenes dan gobloknya sundul langit adalah orang2 yg sejatinya keluar dr pantat ayam sbg telor tp mbelain si tahi ayam bhw mereka itu setara … paham ya?
Mereka panik dampak viral pencerahan pengetahuan legalitas sertifikat macam si bocil plenger takut ketahuan HRD trus dipecat.