Lihatlah ibu itu….

Lihatlah ibu itu. Pakaian sederhana, kerudung seadanya, tangan dan wajah legam dimakan matahari. Keriput di wajahnya bukan dari usia saja, tapi dari kerja keras yang tak pernah selesai.

Ia mungkin tak pernah membaca buku politik, apalagi menghafal nama-nama ketua dan sekjen partai. Tapi sang ibu tentu sangat paham arti ketidakadilan. Ia sangat tahu seperti apa wujud keserakahan. Dan hari itu, tak lagi mampu ia tahan.

Bukan orator kampus, bukan aktivis dengan jargon-jargon muluk. Hanya seorang ibu rumah tangga, yang terbiasa masak untuk anak-anak dan suaminya. Hari itu dengan gagah ia mengangkat Sang Merah Putih, melawan barisan tameng baja yang berlapis. Apa yang ia lawan sebenarnya bukan para polisi itu, tapi wajah negara yang makin jauh dari rakyatnya.

Kita sering lupa, kekuatan bangsa ini justru ada pada orang-orang seperti dia. Orang kecil yang sabar, yang biasanya diam, tapi ketika marah… mereka bisa jadi gelombang. Mereka bukan ingin kekuasaan. Mereka hanya ingin hidup dengan adil. Maka sehat-sehatlah, Bu. Karena ibu adalah cermin kita semua.

(✍️Akhyari Hananto)

Komentar