Letkol bukan sembarang letkol

The Outsize Role of a Lieutenant Colonel

(Peran Luar Biasa Seorang Letnan Kolonel)

✍🏻Made Supriatma

Siapa yang tidak senang kalau melihat anak-anak muda tampil memimpin? Dan, kita tidak kurang anak-anak muda yang cakap, berprestasi, sekaligus memiliki kepemimpinan yang bagus. Di usia muda mereka sudah banyak melihat negara-negara lain. Mereka bisa berpikir panjang, bisa melihat dalam perspektif besar, memiliki mind-set yang global, sekaligus sangat memahami masyarakatnya. Tidak itu saja, mereka memiliki akar lokal yang kuat namun pikirannya menjangkau dunia universal.

Foto yang Sodara lihat ini, jauh dari gambaran anak-anak muda seperti itu. Ini adalah gambaran nepotis berjenjang. Jangan bayangkan nepotisme sekedar membantu anggota keluarga menduduki jabatan dengan kekuasaan yang besar. Tidak sekedar hubungan kekeluargaan.

Nepotisme juga lahir dari perkoncoan. Yakni, teman satu kelas diangkat ke jabatan penting. Atau juga bisa atas dasar hubungan cinta. Pacar dicarikan kedudukan dengan mengabaikan norma-norma meritokrasi. Itu sangat umum terjadi, bukan?

Seperti pejabat Anda ini. Kekuasaannya luar bisa. Gambar itu bicara. Pangkatnya cuman Letkol. Namun, jendral pun menghormat padanya. Menteri-menteri mendatanginya, menyalami dia dengan takzim seolah dia jabatannya lebih tinggi dari mereka.

Dalam sebuah negara dengan pemerintahan yang normal. jabatan dibuat berjenjang. Setiap jabatan memiliki tanggungjawab. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggungjawab. Namun apa jadinya jabatan rendah, kekuasaan sangat besar, namun tanggung jawabnya hanya sesuai jabatannya saja?

Ini luar biasa menurut saya. Sang Letkol ini memiliki kekuasaan yang bahkan Wakil Presiden pun tidak punya. Dia melampui menteri-menteri. Sepertinya, dia adalah presiden yang senyatanya (de facto). Presiden yang sebenarnya memberinya kekuasaan yang sangat besar.

Ah, semua baik-baik saja, bukan? Negara ini berjalan dengan baik. Pertumbuhan ekonomi 5,12 persen (ingat 5+1+2 = 8, angka kesenangan Presiden sekarang). Angka kemiskinan turun menjadi 8 persen. Indeks harga saham gabungan seringkali melonjak ke 8 ribu. Pokoknya semua serba 8.

Itu artinya apa? Itu artinya semua bisa digoreng. Semua bisa dibengkokkan menjadi 8. Ini cara terbaik untuk menjilat. Membuat bapak senang. Menenteramkan hati bapak. Ini adalah patrimonialisme dalam pengertian yang maksimal. Dimana penguasa memperlakukan negara dan semua kekayaannya seolah-olah miliknya pribadi. Ia memerintah atas dasar kesetiaan terhadap dirinya, keluarganya. Ia mengaburkan batas antara yang privat dengan yang publik. Dan, yang terpenting dia menabrak semua aturan meritokrasi karena yang paling penting adalah loyalitas. Dan loyalitas membangun kedekatan pribadi.

Hasilnya? Sebuah inkompetensi luar biasa. Kita bisa melihat itu dimana saja. Di dalam penanggulangan bencana, di program-program seperti makan siang gratis, koperasi desa, sekolah rakyat, penertiban kawasan hutan, dan bahkan di dalam pembangunan serta penebalan militer.

Namun pemerintah ini tetap berbunyi bahwa semua baik-baik saja. Statistik-statistik yang memuaskan dikutip. Survey-survey yang bagus-bagus dimunculkan. Sementara yang tidak bagus harus dikubur. Beberapa lembaga survei bahkian memilih untuk tidak melakukan survei sama sekali.

Pejabat-pejabat berlomba-lomba asbun (asal bunyi). Oh, kami menerbangkan 50 helikopter ke daerah bencana dalam senyap. Oh ya. Senyap memang. Karena tidak ada yang terlihat. Oh akan dikirim ribuan kompor gas ke daerah bencana di Aceh. Tanpa pernah diberitahu, gas didapat dari mana?

Suara-suara yang mengkritik kebijakan pemerintah dibungkam. Para aktivis yang menuntut pertanggungjawaban atas ketidakbecusan pemerintah, diintimidasi. Seorang influencer kritis mendapati mobilnya dicorat-coret. Seorang aktivis lingkungan mendapat kirim bangkai ayam. Kita jadi bertanya-tanya, mengapa rejim ini sangat senang dengan bangkai? Dari bangkai kepala babi hingga ke bangkai ayam? Sedemikian busukah rejim ini?

Inkompetensi ini akan membuat rejim ini gagal. Itulah sebenarnya yang paling menakutkan. Kalau rejim ini gagal, maka ia akan brutal. Kegagalan pertama ditutupi dengan pengingkaran (denial), kemudian dengan intimidasi, terakhir dengan cara-cara brutal seperti yang dilakukan Soeharto pada tahun 1996-98 menjelang kejatuhannya. Dan kita semua mahfum, siapa eksekutor kebrutalan itu — dengan orang-orangnya yang sekarang mendapat posisi sangat mulia sebagai pejabat-pejabat negara.

Itu semua dimulai dari nepotisme. Dengan menempatkan dan mengutamakan para loyalis — yang terbukti sangat inkompeten — dan memberinya kekuasaan yang amat besar. Bahkan jendral pun tahu bahwa sang Letkol jauh berkuasa dari dirinya. Itulah sebabnya dia perlu menunduk dalam.

Gambar: Dari internet hanya sebagai ilustrasi

Komentar