Badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah untuk mempersenjatai kelompok militan Kurdi guna memicu ketidakstabilan di Iran. Langkah ini disebut muncul setelah Washington dinilai gagal mencapai tujuannya dalam perang melawan Republik Islam Iran.
Laporan yang disiarkan oleh CNN pada Selasa (3/3/2026), mengutip sejumlah sumber anonim, menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump telah melakukan pembicaraan aktif dengan kelompok oposisi Iran serta pimpinan faksi milisi Kurdi di Irak terkait kemungkinan pemberian dukungan militer.
Disebutkan pula bahwa Trump berbicara dengan Mustafa Hijri, pemimpin kelompok yang disebut sebagai Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI). Sementara itu, militer AS memulai operasi militer terhadap Iran pada Sabtu, dengan Israel turut melakukan serangan secara terkoordinasi.
Sebagai balasan, unit angkatan laut dan dirgantara dari Islamic Revolution Guards Corps (IRGC) meluncurkan serangan rudal besar-besaran ke sejumlah aset militer AS di kawasan serta target di wilayah pendudukan Israel sejak akhir pekan. Eskalasi tersebut mendorong Washington menutup sejumlah kedutaannya dan mengimbau warga Amerika untuk meninggalkan kawasan.
Kelompok bersenjata Kurdi diketahui beroperasi di sepanjang perbatasan Irak–Iran, terutama di wilayah semi-otonom Kurdistan Irak. Teheran sebelumnya telah memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap setiap pergerakan kelompok militan dari wilayah negara tetangga.
IRGC pada Selasa menyatakan telah menargetkan kelompok militan Kurdi dengan puluhan drone. Laporan itu juga menyebut Trump menghubungi para pemimpin Kurdi Irak untuk membahas agresi militer terhadap Iran dan kemungkinan kerja sama lanjutan.
Seorang pejabat AS yang dikutip dalam laporan tersebut menyatakan bahwa militan Kurdi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kekacauan guna menguras sumber daya militer Iran. Namun, mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS era Presiden Joe Biden, Jen Gavito, memperingatkan bahwa langkah tersebut berisiko memperburuk situasi keamanan dan merusak kedaulatan Irak.
Sumber lain menyebut militer Israel telah meningkatkan serangan terhadap pos militer dan kepolisian Iran di dekat perbatasan Irak, yang diduga untuk membuka jalan bagi kemungkinan pergerakan pasukan Kurdi bersenjata ke wilayah barat laut Iran.
CIA sendiri memiliki sejarah panjang bekerja sama dengan faksi Kurdi Irak sejak era perang Irak, dan saat ini dilaporkan memiliki pos di Kurdistan Irak dekat perbatasan Iran. Amerika Serikat juga memiliki konsulat di Erbil serta menempatkan pasukan koalisi di wilayah tersebut dalam kerangka kampanye anti-Daesh.






