Nama Hasan Nasbi kembali menjadi sorotan publik. Setelah sempat viral karena pernyataannya yang mengaku “menjilat penguasa yang menang”, kini mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan itu menuai hujan kritik lantaran menyerang gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam sebuah pernyataan yang beredar di berbagai kanal media pada akhir Oktober 2025, Hasan Nasbi menilai gaya kepemimpinan Purbaya berpotensi “melemahkan soliditas pemerintah”. Ia menganggap Purbaya terlalu sering menyentil pejabat lain secara terbuka, dan seharusnya “baku tikam dilakukan di ruang tertutup, bukan di depan publik.”
Mau lihat ganasnya netizen indonesia merujak Hasan Nasbi, berikut tim PI upload cuplikanya yang bersumber langsung dari akun ig milik Hasan nasbi.
Yang mau silaturahmi ke iG nya bisa klik di sini https://www.instagram.com/reel/DQS5Ei-EhsG/?igsh=MWE5OWJmamEwcDBhdQ==
Namun, justru dari pernyataan inilah arus balik muncul dari netizen. Di berbagai platform media sosial, komentar Hasan Nasbi dianggap tidak relevan dan bahkan menyinggung sensitivitas publik. Banyak yang menilai bahwa Purbaya justru membawa angin segar dalam gaya kepemimpinan nasional — tegas, terbuka, dan berani menegur siapa pun, termasuk pejabat di lingkaran pemerintah sendiri.
“Kalau bersih, ngapain risih?” begitu salah satu komentar populer yang mewakili perasaan banyak warganet. Gaya blak-blakan Purbaya dipandang sebagai cermin integritas dan transparansi yang jarang ditemui di kabinet modern. Ia dikenal tidak sungkan membongkar ketidakefisienan atau penyimpangan di sektor fiskal, sesuatu yang membuat publik menaruh simpati mendalam.
Sementara itu, Hasan Nasbi, yang belakangan juga diketahui sempat menjabat komisaris di BUMN setelah menjadi bagian dari lingkar kekuasaan, dinilai sebagian netizen tidak dalam posisi moral yang kuat untuk memberi ceramah soal etika komunikasi pejabat. “Dulu ngaku penjilat penguasa, sekarang ngatur gaya bicara menteri rakyat,” tulis seorang pengguna X dengan nada sinis.
Meski begitu, pandangan Nasbi tidak sepenuhnya tanpa dasar. Dalam sistem politik yang kerap diwarnai ego sektoral, komunikasi terbuka antarpetinggi negara memang bisa menimbulkan gesekan citra di mata publik. Namun, pada titik ini, masyarakat tampaknya lebih memilih pemimpin yang berani dan transparan daripada yang terlalu menjaga perasaan rekan sejawat.
Kini, posisi Purbaya Yudhi Sadewa semakin menguat bukan hanya sebagai teknokrat keuangan, tapi juga sebagai figur yang disebut-sebut “menteri kesayangan rakyat.” Gaya lugasnya dianggap mewakili suara publik yang lelah dengan basa-basi birokrasi dan diplomasi internal.
Sementara Hasan Nasbi, dengan segala rekam jejak dan komentarnya yang kontroversial, kembali membuktikan satu hal: dalam era keterbukaan digital, kritik terhadap tokoh publik bisa berbalik menjadi bumerang — apalagi ketika publik sudah menentukan siapa yang mereka anggap benar-benar berpihak pada rakyat.






