Oleh: عين الحق القاسمي
Belakangan ini, muncul perdebatan luas mengenai vonis yang dijatuhkan kepada dua ekspatriat asal Bangladesh—seorang pria dan seorang wanita—yang dituduh melakukan tindakan seksual terlarang di dalam sebuah masjid di Mekkah. Beberapa pihak dengan cepat menyebut kejadian ini sebagai bukti “penerapan syariat Islam secara penuh” di Kerajaan tersebut. Namun, pemeriksaan lebih cermat justru membantah klaim ini dan mengungkap adanya kontradiksi yang nyata.
Dalam perspektif syariat, karena para terdakwa belum menikah, hukuman yang ditetapkan secara eksplisit (hadd) bagi seseorang yang belum menikah (bikr) adalah seratus kali cambukan—bukan hukuman mati. Menyajikan hukuman yang bersifat diskresioner dan ditetapkan oleh negara (ta’zir) sebagai “hukuman syariat yang ditetapkan” (hadd) merupakan suatu bentuk penyesatan—sebuah rekayasa yang dirancang untuk menciptakan ilusi pencapaian.
Kenyataannya, negara tersebut saat ini sedang mengalami gelombang westernisasi yang masif, yang ditandai dengan pembukaan berbagai tempat hiburan dan gedung konser, serta adopsi luas terhadap elemen-elemen budaya Barat. Lantas, bagaimana bisa dikatakan konsisten jika negara secara resmi memfasilitasi kondisi yang memicu tindakan terlarang semacam itu, namun di saat yang sama mengklaim menerapkan syariat secara ketat ketika ekspatriat terjerumus ke dalamnya?
Lebih jauh lagi, catatan peradilan menunjukkan adanya pola penjatuhan hukuman yang jauh lebih berat dan keras terhadap pekerja asing dibandingkan terhadap warga negara sendiri—semuanya dibarengi dengan pembatasan ketat terhadap media, yang menyembunyikan fakta sebenarnya serta situasi di lapangan dari dunia luar.
Berpura-pura menerapkan syariat terhadap kelompok yang paling rentan—sembari di saat yang sama merangkul liberalisasi ala Barat secara luas—tidak lebih dari sekadar sandiwara politik dan contoh nyata dari standar ganda. Umat Muslim tidak boleh terkecoh oleh hal ini, dan tidak sepatutnya menganggapnya sebagai model penerapan syariat Islam secara komprehensif. [fb]
*Ain al-Haq al-Qasimi (عين الحق القاسمي) adalah seorang cendekiawan dan peneliti Islam kontemporer yang memiliki spesialisasi dalam ilmu-ilmu keagamaan—khususnya studi Hadis, akidah, dan yurisprudensi mazhab Hanafi (fiqh). Ia dikenal aktif dalam penyuntingan ilmiah terhadap manuskrip dan teks-teks klasik, serta dalam penulisan artikel-artikel akademis.
_______________
Arab Saudi mengeksekusi mati dua warga negara Bangladesh, yaitu seorang pria bernama Nazrul Islam Abdul Basir dan seorang wanita bernama Siti Akhtar. Hukuman mati tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Oktober 2026 di wilayah Makkah.
Kedua warga Bangladesh tersebut dijatuhi hukuman eksekusi setelah dinyatakan bersalah melakukan tindakan asusila (amoral) di dalam sebuah masjid di kota suci Makkah. Pihak berwenang menilai tindakan mereka telah melanggar kesucian tempat ibadah tersebut.
Berikut beberapa detail terkait kasus tersebut:
- Proses Hukum: Setelah ditangkap oleh otoritas keamanan setempat, kasus keduanya diselidiki dan dilimpahkan ke pengadilan yang berwenang.
- Dasar Hukum: Pengadilan menjatuhkan hukuman mati berdasarkan hukum ta’zir (hukuman diskresioner yang jenis dan beratnya ditentukan oleh hakim) karena beratnya pelanggaran yang mencemari kehormatan tempat suci.
- Eksekusi: Putusan tersebut menjadi berkekuatan hukum tetap (final) setelah dikuatkan oleh otoritas peradilan yang lebih tinggi dan disetujui melalui Perintah Kerajaan (Royal Order).








gimana mau penerapan syari’at yg lurus orang pada takut bersuara.
bisa dipenjara dan dihukum mati oleh rezim Saud
makanya Riyadh season terus diselenggarakan tiap tahun padahal jelas2 itu event penuh kemaksiatan
yg boleh bermaksiat ditanah saudi hanya warga saudi saja sedang kan ekspatriat dilarang & yg melanggar akan dihukum seberat-beratnya.
yg lebih aneh lagi para fanboinya saudi, kaya gini kok dibela habis habisan sampe tega mengkafir kafirkan sesama muslim.
ada yg lebih ngeri lg di iran mahsa amini dianiaya sampai meninggal hanya karena ga pakai jilbab
lagi bahas Saudi kamu lari ke Iran! 🤣
nanti fans iran majusi syiah ngatain ente wahaboy lo bang
Bani saud? gak kaget. tebang pilih itu, cuma pingin diakui paling islami paling benar titik
benar om, syiah dan kejawen kolaborasi ibadah di kuburan wali, kuburan kabib
saudi mengaku paling islami, iran mengaku paling ali
saudi mengaku paling islami, iran mengaku paling ali, kejawen mengaku paling klenik wkwkwkwk
fans iran majusi syiah mulai mengekuarkan kata2 wahaboy hahaha
untuk melanggengkan kekuasaannya para penguasa boneka penjajah akan bertindak kejam supaya umat islam takut bersuara, apalagi berkaitan tentang wajibnya penerapan hukum islam secara kaffah. jangankan berbicara khilafah (karena rezim saud ini lahir dari pemberontak dukungan inggris ketika kekhilafahan utsmani melemah) ulama yg bicara palestina saja auto ditangkap.
dan bukan hanya saudi saja, ada mesir, yordan, turki, uea, qatar, pakistan dll
sumber minyak ga akan kekal selamanya, makanya mereka perlu sumber pemasukan alternatif via gaya hidup hedonisme, hunian mewah, konser² dan budaya serba western utk menarik ekspat & duit mereka supaya masuk
media antek antek Syi’ah
antek asing kalee🤣🤣
negara muka dua mirip Israel munafik
arab lagi ekstra cari muka ke umat islam dunia.
karena bengep babakbeler dihajar habis Yaman, dan mo liatin kalo mereka bisa tegas walowpun masi demen hadirkan biduan2 tanpa busana cem acara hajatan gus iqdam.
inilah contoh produk hukum ala WAHABOY bin Bani Onta Najed, tajam ke bawah, impoten ke atas ! mirip2 penegakan hukum di Konoha 😀😁😂😂