Kiper Republik Irlandia, Gavin Bazunu, secara resmi mengundurkan diri dari skuad nasional untuk pertandingan UEFA Nations League melawan Israel. Keputusan yang diambil sebagai bentuk boikot pribadi atas konflik dan aksi militer di Gaza ini memicu gelombang diskusi mendalam di internal tim nasional Irlandia.
Berikut adalah poin-poin penting terkait situasi ini:
- Alasan Pengunduran Diri: Melalui pernyataan di akun Instagram pribadinya, kiper Bolton Wanderers berusia 24 tahun tersebut menyatakan bahwa keputusannya didasari oleh prinsip moral dan iman yang dianutnya. Bazunu menegaskan bahwa ia merasa salah untuk berpartisipasi dalam laga tersebut karena penolakannya terhadap “pembunuhan massal orang-orang tidak bersalah dan kekejaman di wilayah tersebut”.
- Voting Internal Skuad: Keputusan Bazunu sempat membuat jadwal latihan dan konferensi pers tim di Debrecen, Hungaria ditunda selama beberapa jam. Skuad Irlandia sempat berdiskusi sengit mengenai kemungkinan melakukan boikot total. Namun, berdasarkan pemungutan suara rahasia (voting) yang diikuti para pemain, mayoritas (dilaporkan 14 berbanding 8 suara) memilih untuk tetap melanjutkan pertandingan.
- Sikap FAI dan Tim: CEO Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI), David Courell, serta pelatih kepala Heimir Hallgrímsson mengonfirmasi bahwa pertandingan akan tetap berjalan demi menghindari sanksi berat atau diskualifikasi dari UEFA. Sebagai bentuk kompromi dan aksi solidaritas terhadap korban konflik, tim Irlandia memutuskan untuk mengenakan ban lengan hitam sepanjang pertandingan serta meniadakan prosesi jabat tangan pra-pertandingan.
Pertandingan leg pertama ini dijadwalkan berlangsung di tempat netral, yaitu Stadion Nagyerdei di Debrecen, Hungaria, Minggu 27 September 2026 pukul 20.45 waktu setempat (18.45 WIB).
Pernyataan lengkap Gavin Bazunu:
“(Menjadi kiper) Mewakili negara saya sesuatu yang sangat berarti segalanya bagi saya. Saya sangat menghormati setiap rekan setim saya, pelatih, stafnya, dan rakyat Irlandia.
Namun, saya telah mencapai keputusan yang tidak saya ambil dengan ringan. Saya adalah seorang pria dengan iman yang kuat dan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pribadi yang berkarakter dan berprinsip. Oleh karena itu, saya merasa tidak tepat untuk berpartisipasi dalam pertandingan mendatang melawan Israel.
Keputusan saya murni didasarkan pada keyakinan pribadi saya bahwa pembunuhan orang-orang tak bersalah adalah salah.
Penting untuk dicatat bahwa sikap saya bukanlah penentangan terhadap rakyat Israel atau komunitas Yahudi, melainkan terhadap kekejaman di wilayah tersebut.
Sangat jarang dalam hidup seseorang mendapat kesempatan untuk berdiri memperjuangkan sesuatu yang lebih besar, dan saya sangat yakin bahwa ini adalah salah satunya.”







