Ketika Dalil Dipaksakan
Gus Baha’ pernah menyindir dengan cara khasnya: bahwa sebagian warga NU, bahkan yang sudah duduk di barisan Syuriah, masih perlu banyak belajar. Bukan soal niat. Bukan soal kecintaan pada tradisi. Tapi soal kebiasaan memaksakan dalil yang tidak jelas.
Tradisi seperti tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari—yang sejatinya hidup dan mengakar di masyarakat—sering dibela dengan kalimat sakti: “Ada hadisnya.”
Masalahnya: hadis yang mana?
Ketika berhadapan dengan alumni Ummul Qura, Madinah, atau para doktor hadis, NU jadi tampak kikuk.
Seolah-olah Nabi itu orang NU.
Seolah semua tradisi lokal Jawa itu turun satu paket bersama wahyu.
Padahal, kata Gus Baha’, secara riwayah, hadis-hadis yang biasa dipakai untuk membela tradisi itu memang bermasalah.
Bahkan beliau sendiri—yang tiap hari ngaji hadis—sering tidak paham dengan apa yang disebut orang sebagai “hadis ala NU”. Lalu terjadilah adegan yang tragikomik. Kiai NU bertemu kubu lain.
Digojlok: “Itu hadis sahih atau tidak?”
Yang bertanya tidak paham hadis.
Yang ditanya juga tidak paham hadis.
Akhirnya dua-duanya diam. Bukan karena takzim. Tapi karena sama-sama kosong. Di situlah Gus Baha’ mengingatkan: hadis sahih itu sudah sangat luas. Dalil yang kuat itu berlimpah. Tidak perlu memaksakan riwayat aneh-aneh hanya demi membela tradisi.
Sebab yang terjadi justru sebaliknya:
bukan tradisi yang tampak kuat,
tapi NU yang tampak ngawur.
Di hadapan profesor hadis dari Mekkah atau Ummul Qura,
NU terlihat seperti ormas yang emosional: cinta tradisi, tapi miskin argumen. Padahal sebenarnya NU tidak pernah kekurangan legitimasi syar’i. Yang kurang itu sering kali:
kejujuran ilmiah.
Bahwa sebagian amalan kita berdiri bukan di atas hadis sahih,
melainkan di atas:
– kaidah umum syariat
– amal saleh kolektif
– praktik ulama
– maqashid
– dan kemaslahatan
Dan itu sah. Itu terhormat.
Itu ilmiah. Yang tidak ilmiah adalah:
memalsukan kekuatan dalil demi menyelamatkan harga diri tradisi.
Gus Baha’ seperti sedang berkata pelan: Jangan jadikan NU tampak alim dengan cara yang tidak alim.
Lebih mulia berkata, “Ini tidak ada hadis sahihnya, tapi ini baik, ini maslahat, ini warisan ulama.”
Daripada berkata: “Ada hadisnya,”
padahal tidak tahu sanadnya, tidak tahu perawinya, tidak tahu kualitasnya. Ironisnya, yang membuat NU tampak lemah di hadapan Wahabi bukan tahlilannya.
Tapi kebiasaan berbohong atas nama hadis.
Dan di situlah kritik Gus Baha’ menjadi tamparan lembut: NU tidak butuh dalil palsu. NU hanya butuh kejujuran dan sedikit keberanian untuk berkata: “Kami mencintai tradisi, tapi kami tidak mau memalsukan Nabi demi membelanya.”
(Dwy Sadoellah)
*sumber: fb







Komentar