Ketegangan antara Rusia dan Inggris kembali meningkat setelah serangan mematikan menghantam kota Bryansk di wilayah Rusia. Pemerintah Rusia menuding Inggris memiliki peran langsung dalam serangan tersebut karena rudal yang digunakan disebut merupakan buatan Inggris.
Kremlin melalui juru bicaranya, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa serangan yang dilakukan Ukraina menggunakan rudal jelajah Storm Shadow tidak mungkin terjadi tanpa bantuan teknis dari pihak Inggris. Menurutnya, pengoperasian senjata canggih tersebut membutuhkan dukungan dari spesialis militer negara pembuatnya.
“Rudal tersebut tidak mungkin diluncurkan tanpa keterlibatan tenaga ahli dari Inggris,” ujar Peskov dalam pernyataannya pada Jumat (13/3).
Serangan yang terjadi pada Selasa lalu itu menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Gubernur wilayah Bryansk, Aleksandr Bogomaz, melaporkan bahwa awalnya enam orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka akibat serangan tersebut.
Namun sehari setelah kejadian, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi tujuh orang. Selain itu, setidaknya 42 warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat ledakan rudal tersebut.
Bogomaz mengecam serangan itu sebagai tindakan tidak manusiawi yang menargetkan wilayah sipil. Ia menyebut insiden tersebut sebagai aksi teror yang menimbulkan penderitaan bagi warga setempat.
Pihak Kremlin menilai insiden ini semakin memperkuat alasan Rusia untuk melanjutkan operasi militernya terhadap Ukraina. Peskov menegaskan bahwa tujuan utama operasi tersebut adalah untuk mengurangi kemampuan militer Ukraina agar tidak dapat melancarkan serangan serupa di masa depan.
“Keberhasilan operasi ini penting agar tindakan brutal rezim Kiev tidak terulang kembali. Salah satu targetnya adalah melemahkan kemampuan militer Kiev,” kata Peskov.
Sementara itu, pemerintah Ukraina mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kiev menyatakan target utama serangan adalah sebuah fasilitas mikroelektronika yang dianggap memiliki nilai strategis.
Meski demikian, sejumlah laporan media menyebutkan bahwa serangan terjadi saat pergantian sif pekerja di pabrik tersebut. Banyak karyawan sedang keluar dari area kerja saat rudal menghantam, sehingga menyebabkan tingginya jumlah korban.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa total tujuh rudal jelajah Inggris digunakan dalam serangan itu. Moskow menilai negara-negara Barat, khususnya Inggris, harus bertanggung jawab atas jatuhnya korban sipil dalam insiden tersebut.
Dalam pernyataan resminya, kementerian tersebut menuduh London telah mendorong konflik menuju eskalasi yang lebih berbahaya dengan memanfaatkan Ukraina sebagai perantara.
Selain itu, Rusia juga meminta United Nations untuk segera merespons insiden tersebut. Pemerintah Rusia memperingatkan bahwa jika dunia internasional tidak mengambil sikap, hal itu dapat dianggap sebagai pembiaran terhadap tindakan yang mereka sebut sebagai kejahatan.
Di Bryansk sendiri, pemerintah daerah menetapkan masa berkabung untuk mengenang para korban. Saat ini sekitar 20 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara sembilan korban dengan luka paling serius telah dipindahkan ke fasilitas medis khusus untuk mendapatkan penanganan intensif.
Adapun rudal jelajah Storm Shadow merupakan senjata yang diluncurkan dari pesawat tempur dengan jangkauan hingga sekitar 560 kilometer. Kota Bryansk yang berjarak sekitar 100 kilometer dari perbatasan Ukraina membuat wilayah tersebut berada dalam jangkauan serangan senjata jarak jauh tersebut.






