Kepala Ular

Setelah Imam Husain bin Ali (putra Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah ﷺ) gugur di Karbala pada tahun 61 Hijriah, kepalanya dibawa ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad, gubernur Kufah (Kekhalifahan Umayyah) yang telah mengirim pasukan untuk membunuhnya. Anas bin Malik hadir saat kepala cucu Rasulullah (ﷺ) itu diletakkan di dalam sebuah bejana.

Menurut sebuah riwayat dalam Sunan al-Tirmidzi, Ibnu Ziyad menusuk-nusuk hidung Imam Husain dengan tongkat seraya berkata, “Aku belum pernah melihat ketampanan seperti ini.”

Anas menegurnya dengan berkata, “Ketahuilah bahwa dia adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah (ﷺ).”

Dalam riwayat tambahan yang dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, Anas berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah (ﷺ) mencium tepat di tempat engkau meletakkan tongkatmu itu.”

Ibnu Ziyad terkejut dan menahan diri.

Zaid bin Arqam juga dilaporkan menegurnya dengan berkata, “Singkirkan tongkatmu! Aku pernah melihat mulut Rasulullah (ﷺ) berada tepat di tempat itu.”

Bertahun-tahun kemudian, al-Mukhtar bin Abi Ubaid (pemberontak Kekhalifahan Umayyah) mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ibrahim bin al-Asytar untuk memerangi gubernur Kufah Ibnu Ziyad untuk menuntut balas atas kematian Imam Husain bin Ali.

Kedua pasukan bertemu di al-Khazir, dekat Mosul. Ibrahim tidak tidur pada malam sebelum pertempuran. Saat fajar menyingsing, ia mengatur pasukannya, memimpin salat subuh, lalu bergerak maju bersama mereka.

Ibrahim berdiri di samping panji-panji kabilah dan berseru, “Inilah (gubernur Ibnu Ziyad) orang yang memerangi putra dari putri Rasulullah (ﷺ). Allah telah mendatangkannya kepada kalian dan memberikan kesempatan bagi kalian untuk mengalahkannya hari ini. Maka, hadapilah dia! Sebab dia telah melakukan perbuatan terhadap putra dari putri Rasulullah (ﷺ) yang bahkan Fir’aun pun tidak melakukannya terhadap Bani Israil!”

Ibnu Ziyad pun tewas, dan pasukannya dikalahkan. Menurut penanggalan yang umum diterima sebagaimana tercantum dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 67 H. Enam tahun setelah Tragedi Karbala pembantaian terhadap Imam Husain bin Ali dan pengikutnya.

Kepala Ibnu Ziyad, bersama dengan kepala beberapa pengikutnya, dikirim kepada al-Mukhtar dan kemudian diletakkan di masjid di kawasan al-Rahbah, Kufah.

‘Umarah bin ‘Umair menuturkan dalam sebuah riwayat dari Sunan al-Tirmidzi: “Ketika kepala Ubaidillah bin Ziyad dan para pengikutnya didatangkan, kepala-kepala itu diletakkan di masjid di al-Rahbah. Aku tiba saat orang-orang berseru, ‘Ia datang! Ia datang!’ Tiba-tiba, seekor ular melata di antara kepala-kepala tersebut dan masuk ke dalam lubang hidung Ubaidillah bin Ziyad. Ular itu sempat berada di dalamnya sejenak, lalu keluar dan melata pergi hingga menghilang dari pandangan. Setelah itu, orang-orang kembali berseru, ‘Ia datang! Ia datang!’ Ular tersebut mengulangi perbuatannya itu sebanyak dua atau tiga kali.”

Dalam riwayat lain yang dikutip oleh Ibnu Katsir, ular kecil itu masuk melalui mulut Ibnu Ziyad dan keluar melalui hidungnya, lalu masuk melalui hidung dan keluar melalui mulutnya.

Al-Yafi‘i menyebutkan dalam Mir’at al-Jinan wa ‘Ibrat al-Yaqzan bahwa kepala Ibnu Ziyad pada akhirnya diletakkan tepat di tempat yang sama di mana kepala Imam Husain pernah diletakkan. Ia mengutip perkataan para ulama: “Hal ini merupakan balasan atas perbuatannya terhadap kepala Husain, sekaligus menjadi tanda nyata hukuman yang ditimpakan kepadanya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

    1. Terlepas perbedaan, selama mereka masih menyembah Allah yang sama dan Nabi serta kitab suci yang sama tidaklah elok mendoakan keburukan terhadap mereka….Apakah gurumu atau nafsumu yang mengajarkan demikian?

      1. tapi knapa umat syiah teriak2 ya ali saat pesawat mau jatuh bukan ya Allah? aku cuma penasaran aja sih, videonya viral di sosial media soal turbulensi sepehran airlines, sespesial apa kedudukan ali dalam keimanan syiah aku awam ajasih