Kenapa Warung Madura bisa merajai Ibu Kota

✍🏻Arham Rasyid (Kendari)

Salah satu culture shock saat saya pertama kali menginjakkan kaki di ibukota adalah Warung Madura.

Gak shock-shock amat sih. Sekadar heran aja, kok bisa warga Madura ekspansi ke Jakarta hingga merajai bisnis perwarungan?

Bahkan sekarang pun ketika gerai alfamart dan indomaret ada di mana-mana, gak jarang orang masih memilih warung Madura.

Nah, ternyata ini ada sejarahnya, gaes.

Akhir tahun 90 atau awal 2000-an, perantau dari Sumenep (Madura) buka toko kecil jualan alat-alat pertukangan kayu. Satu orang sukses, menginspirasi perantau Sumenep lainnya, saling support, lalu mengembangkan usaha dengan jualan sembako.

Begitu seterusnya hingga bisnis ini menjamur. Sekarang kalo liat warung sembako di Jakarta, pasti identik dengan orang Madura.

Bisnis spesifik yang didominasi etnis tertentu seperti ini ternyata ada di mana-mana.

Di kota saya juga banyak.

Misalnya konter pulsa. Entah kenapa di sini identik dengan perantau asal Bali.

Warung makan didominasi orang Jawa dan Padang.

Bisnis mebel dan kayu identik dengan orang Toraja. Pedagang pasar kebanyakan Bugis dan Makassar. Sementara bisnis kain dan gorden didominasi orang Bulukumba.

Komentar