Catatan: Agus M Maksum
Terus terang, saya tak bisa menahan tawa getir waktu membaca berita itu. Amerika — negeri yang mengajarkan dunia tentang freedom of speech, democracy, dan equal opportunity — kini sedang ribut gara-gara Wali Kota New York baru… seorang Muslim bernama Zohran Mamdani.
Trump marah. Bukan marah biasa. Tapi marah ideologis.
Katanya, “Mamdani itu komunis.”
Lucu. Karena kalau mau jujur, tuduhan “komunis” di Amerika itu lebih ampuh dari tuduhan “teroris.”
Trump tahu betul, menyerang Mamdani dengan isu agama justru bisa memantik simpati. Tapi menuduhnya “komunis”? Itu cara halus untuk menyalakan alarm ketakutan nasional.
Karena di kepala rakyat Amerika, komunisme bukan ideologi — itu momok. Seperti hantu masa kecil yang tak pernah benar-benar pergi dari bawah ranjang sejarah Perang Dingin.
Mamdani: Sosialis, Bukan Komunis
Mamdani tidak melawan dengan marah. Ia menjawab dengan tenang, bahkan elegan.
Katanya, “Saya bukan komunis. Saya sosialis demokrat.”
Bedanya tipis di telinga orang awam, tapi jurang sangat dalam politik.
- Komunisme menolak kepemilikan pribadi, meniadakan Tuhan, dan menempatkan negara sebagai segalanya.
- Sementara Sosialisme Demokrat — versi Mamdani — justru berangkat dari empati: negara harus hadir untuk memperbaiki ketimpangan, tapi rakyat tetap punya ruang untuk berusaha.
Ia bicara tentang rumah terjangkau, layanan kesehatan publik, dan upah layak bagi buruh — bukan revolusi kelas.
Tapi di mata Trump, semua yang menentang korporasi besar pasti “komunis.”
Begitulah logika kaum oligarki kapitalis yang alergi pemerataan.
Perang Identitas Baru
Inilah wajah baru perang wacana ideologis abad ke-21 di Amerika: bukan antara agama dan sekularisme, tapi antara kapitalisme rakus dan sosialisme berperikemanusiaan.
- Trump menyerang dari atas panggung bisnis dan nasionalisme sempit.
- Mamdani bertahan dengan data, visi sosial, dan empati rakyat kecil.
Dan menariknya, Mamdani tidak menjawab serangan itu dengan “Saya Muslim, dan karenanya saya bukan komunis.”
Karena ia tahu, di Amerika, begitu Anda bawa Tuhan ke debat publik, Anda sudah kalah dari prasangka.
Ia memilih menjawab sebagai pemimpin yang peduli, bukan umat yang defensif.
Dan di situlah letak kecerdasannya — memisahkan iman dari permainan label ideologis yang dibuat untuk menjeratnya.
Ironi Amerika
Trump mungkin lupa: komunisme tidak akan datang dari seorang wali kota Muslim di New York.
Kalau pun bahaya nyata mengancam Amerika, itu bukan komunisme — melainkan keserakahan kapitalisme yang dibiarkan tumbuh tanpa pagar moral.
Mamdani hanya cermin. Cermin yang memantulkan wajah Amerika yang tak ingin ia lihat: bahwa di tengah gedung pencakar langit Wall Street, semakin banyak rakyat kecil yang tak mampu membayar sewa rumah.
Dan seperti biasa, ketika kenyataan terasa menyakitkan, yang disalahkan bukan sistem… tapi seseorang.
Kali ini, namanya Zohran Mamdani.
“Trump takut bukan pada komunisme. Tapi pada kenyataan bahwa rakyat mulai jatuh cinta pada keadilan sosial.”







Komentar