Fenomena kyai palsu di Jawa bukan cerita pinggiran. Ia berulang, sistemik, dan kerap dibiarkan tumbuh. Dari kasus Kanjeng Taat Pribadi yang sempat menjelma gerakan berskala nasional, hingga figur-figur lokal seperti Mama Gufron, polanya konsisten: otoritas dibangun bukan dari ilmu, melainkan dari simbol, ketakutan, dan pengultusan.
Masalah utamanya bukan semata siapa mereka, melainkan mengapa mereka selalu menemukan pengikut.
Otoritas Tanpa Metode
Dalam tradisi Islam, otoritas lahir dari metode keilmuan: sanad, disiplin belajar, dan kemampuan diuji. Imam Malik pernah mengingatkan, “Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama.”
Di Jawa, prinsip ini sering dibalik. Gelar seperti kyai, mama, abah, atau gus berfungsi sebagai kartu bebas kritik. Begitu gelar melekat, pertanyaan soal dalil dianggap kurang adab. Dalam konteks Mama Gufron, yang mengemuka bukan perdebatan metodologi, melainkan loyalitas pada figur. Agama direduksi menjadi kepercayaan personal, bukan hasil penalaran.
Mistisisme sebagai Komoditas
Kyai palsu jarang menjual fikih. Mereka menjual kepastian. Jalan pintas spiritual, klaim ilmu khusus, atau isyarat karomah yang sengaja dipertontonkan. Ini bukan kebetulan. Mistisisme adalah komoditas yang laku keras di tengah masyarakat yang tertekan secara ekonomi dan sosial.
Imam al-Ghazali sudah mengingatkan sejak lama, “Setan membuka pintu ibadah agar manusia lupa pada ilmu.” Ibadah tanpa ilmu mudah berubah menjadi kultus, dan kultus selalu membutuhkan figur pusat.
Feodalisme Pesantren yang Tak Pernah Diaudit
Ada persoalan lama yang jarang disentuh, yaitu feodalisme dalam otoritas keagamaan. Keturunan sering dianggap setara dengan kapasitas. Seorang gus bisa berbicara apa saja dan tetap dipercaya. Sanad keilmuan menjadi pelengkap, bukan syarat.
Padahal Ibn Sirin menegaskan, “Dahulu orang tidak bertanya tentang sanad. Ketika fitnah muncul, barulah sanad diperiksa.” Fitnah itu kini nyata, tetapi pemeriksaan sanad masih dianggap tabu.
Pengikut, Fanatisme, dan Rasa Tidak Berdaya
Menyebut pengikut kyai palsu sebagai bodoh adalah analisis malas. Banyak dari mereka adalah orang-orang yang kehilangan posisi sosial dan merasa terpinggirkan. Tokoh karismatik menawarkan identitas dan rasa dipilih. Pada titik itu, kritik dipersepsi sebagai ancaman, bukan koreksi.
Ibnu Taimiyah mengingatkan, “Kesalahan seorang yang diikuti banyak orang lebih berbahaya daripada kesalahan orang awam.” Bahaya itu bukan pada satu kesalahan, melainkan pada reproduksi kesesatan secara massal.
Negara dan Ormas Datang Setelah Api Membesar
Hampir semua kasus besar menunjukkan pola pembiaran. Selama ajaran dibungkus pengajian dan tradisi, negara dan ormas cenderung diam. Mereka baru bergerak setelah kegaduhan terjadi. Padahal tanda-tanda awal selalu terlihat: baiat tertutup, klaim kebenaran tunggal, pengultusan figur, dan larangan berpikir kritis.
Akibatnya, figur seperti Mama Gufron diperdebatkan di ruang publik setelah pengaruhnya mengeras, bukan ketika masih bisa dikoreksi.
Akar Masalahnya Ada pada Ekosistem
Kyai palsu bukan anomali. Mereka adalah produk ekosistem yang memuja simbol, mematikan kritik, menganggap patuh sebagai iman, dan mengira ragu sebagai dosa.
Imam Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar tapi mungkin salah, pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.” Kalimat ini tidak punya tempat dalam kultur kultus.
Catatan Akhir
Islam tidak runtuh oleh pertanyaan. Ia runtuh ketika pertanyaan dilarang. Selama masyarakat Jawa lebih sibuk menjaga perasaan figur daripada menjaga metode berpikir, kyai palsu akan terus lahir. Mereka akan berganti nama, berganti gelar, dan berganti panggung.
Yang perlu dibongkar bukan satu tokoh, melainkan kenyamanan kolektif terhadap ketidaktahuan.







Komentar