Oleh: Dhewa Edikresnha
- Kemenangan Zohran Mamdani dalam kancah politik Amerika Serikat memunculkan beragam reaksi, terutama dari kalangan yang menyoroti latar belakang keagamaannya.
- Wajar jika sebagian pihak menilai bahwa pandangan dan prinsip Mamdani tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai-nilai Islam pada umumnya.
- Namun demikian, kemenangan ini justru membuka ruang refleksi bagi umat Muslim di seluruh dunia—khususnya dalam memahami realitas politik modern yang semakin kompleks.
- Sudah saatnya umat Islam melihat persoalan politik dengan kacamata yang lebih bijak.
- Perbedaan manhaj, mazhab, pandangan, atau latar belakang seseorang seharusnya tidak menjadi penghalang dalam menilai arah perjuangannya.
- Dalam konteks kemanusiaan, banyak tokoh dari berbagai latar yang justru tampil lebih tegas membela keadilan dan menolak penindasan.
- Sementara sebagian tokoh yang mengaku memperjuangkan Islam memilih berdiam diri di hadapan kezaliman.
- Umat Islam perlu meninggalkan pandangan apatis bahwa karena tidak ada calon yang ideal, sehingga memilih untuk tidak berpartisipasi dalam politik.
- Sikap semacam ini hanya akan membuat umat Islam terus dipojokkan, tanpa daya menentukan arah kebijakan yang mempengaruhi hidup mereka sendiri.
- Sementara dunia terus bergerak dan keputusan-keputusan besar diambil, mereka yang memilih diam akan tetap menjadi penonton—bahkan korban—dari kebijakan yang ditentukan oleh orang lain.
- Zohran Mamdani sering diserang karena dianggap mendukung kelompok LGBT.
- Padahal, konteks kampanyenya lebih menekankan pada prinsip kesetaraan dalam akses layanan publik dan kesehatan bagi semua warga tanpa diskriminasi. Dalam sistem liberal seperti Amerika, hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia—bukan dukungan terhadap perilaku tertentu.
- Umat Islam harus memahami bahwa tidak mungkin menemukan seorang pemimpin yang seratus persen sesuai dengan seluruh nilai dan harapan kita.
- Dalam menentukan pilihan politik, kaum Muslimin harus bersikap realistis dan memiliki prioritas yang jelas: apakah akan berpihak kepada mereka yang memperjuangkan keadilan, melawan penindasan, dan membela kaum lemah, tapi dengan ada ketimpangan dalam hal yang bersifat masalah personal seseorang atau kepada mereka yang tampil dengan membawa agama tapi diam saja bahkan mendukung genosida.
- Seorang pemimpin yang menolak genosida (seperti Mamdani), walau hidup di tengah sistem liberal dan tidak menentang keberadaan kelompok tertentu, masih jauh lebih baik daripada pemimpin yang gemar menampilkan simbol-simbol agama tetapi diam atau bahkan mendukung pembunuhan terhadap sesama manusia karena ini masalah nyawa.
- Jika anda membiarkan genosida ini, maka hanya masalah waktu nyawa anda akan hilang karena lawan anda yang terlalu kuat.
- Umat Islam juga bisa belajar dari pengalaman di berbagai negara mayoritas Muslim. Ketika perjuangan politik terlalu kaku dengan mengibarkan bendera agama dan menolak keberagaman, maka gerakan tersebut mudah menjadi sasaran empuk bagi pihak-pihak yang memiliki kekuatan militer dan teknologi yang lebih unggul. Akibatnya, perjuangan yang semula diniatkan untuk menegakkan nilai-nilai Islam justru berujung pada konflik dan penderitaan panjang.
- Jika umat Islam sungguh ingin berperan besar dalam arah kebijakan publik, maka yang perlu dikedepankan adalah kesantunan, kebijaksanaan, dan kemampuan berdialog dengan semua pihak. Termasuk dengan pihak-pihak yang dianggap berseberangan.
- Jalan menuju kemenangan tidak lahir dari sikap memusuhi, melainkan dari kemampuan menunjukkan akhlak mulia dan memberikan solusi konkret terhadap persoalan nyata di tengah masyarakat.
- Sudah saatnya politikus dari kaum Muslimin mengedepankan isu-isu universal terlebih dahulu seperti kesejahteraan ekonomi, pendidikan, keadilan sosial, dan pemenuhan hak-hak dasar manusia.
- Di saat yang sama, dakwah tetap perlu digalakkan di tengah masyarakat—secara damai, cerdas, dan meneladankan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Foto ini diambil dari X Zohran Mamdani. Beliau berfoto dengan Imam Siraj Wahaj (kanan) dan Yusef Abdus Salaam (kiri).






Komentar