Lelah yang selama ini dipikul rakyat kecil kembali memakan korban. Kisah Solihun, driver ojol Grab di Batam, menambah daftar panjang tragedi yang seharusnya tidak perlu terjadi bila negara benar-benar hadir mengemban amanat konstitusi untuk melindungi fakir miskin dan mereka yang terlantar.
Solihun ditemukan meninggal di teras sebuah warung makan di Perumahan Hang Kesturi, Legenda Malaka, pada Selasa 18 November 2025. Menurut cerita rekan-rekannya, beberapa hari sebelumnya ia memaksakan diri bekerja hingga jauh malam demi mengejar penghasilan tambahan. Ia sempat mengeluh tubuhnya sangat lemah dan meminta izin untuk beristirahat. Pamit itu ternyata menjadi kata terakhirnya.
Saat ditemukan, ia masih mengenakan jaket hijau yang menjadi identitas profesinya. Gambaran itu mencerminkan betapa kerasnya ia berjuang di tengah tekanan ekonomi yang kian berat. Polisi sudah melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian dan jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lanjutan.
Namun kisah Solihun bukan satu-satunya tragedi yang mencuat dalam beberapa waktu terakhir. Ada juga pemuda asal Sumatera Selatan, ia bernama Randika yang berusia 28 tahun juga meninggal dalam kondisi mengenaskan akibat kelaparan, kemiskinan dan ketidakberdayaan. Keluarganya hidup dalam keadaan serba kekurangan tanpa pekerjaan tetap, tanpa bantuan yang memadai dan tanpa akses layak untuk sekadar memenuhi kebutuhan harian. Randika tutup usia dalam keadaan perut kosong. Sebuah kenyataan pahit yang seharusnya mengguncang nurani siapa pun yang bertanggung jawab atas nasib rakyat.
Dua nyawa melayang dalam waktu yang berdekatan. Keduanya berasal dari kelompok masyarakat yang mestinya paling dilindungi negara. Konstitusi sudah jelas menyatakan bahwa negara wajib hadir bagi mereka yang paling rentan. Namun kenyataan sosial menunjukkan arah sebaliknya. Di era pemerintahan Prabowo, semakin banyak suara yang menilai bahwa kelompok masyarakat bawah kian sulit bertahan hidup tanpa dukungan nyata.
Harga kebutuhan pokok naik dan lapangan pekerjaan tidak stabil. Mereka yang berada di garis kemiskinan terpaksa bekerja tanpa jeda atau bahkan berjuang tanpa makanan yang cukup. Negara yang seharusnya menjadi pelindung justru terasa jauh bagi mereka yang paling membutuhkan.
Kematian Solihun dan Randika menjadi simbol betapa seriusnya persoalan kemiskinan di Indonesia. Ini bukan sekadar kabar duka melainkan alarm sosial yang keras. Ketika rakyat kecil berguguran karena kelelahan dan kelaparan, maka ada yang salah dalam tata kelola negara.
Selamat jalan Solihun dan Randika. Semoga kepergian kalian menjadi pengingat bahwa negara tidak boleh hanya hadir untuk mereka yang kuat tetapi juga bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup.






Komentar