Kelompok peretas yang menamakan diri Handala hacking group mengklaim telah berhasil membobol sistem milik Institute for National Security Studies (INSS), lembaga yang berbasis di Israel dan dikenal sebagai pusat kajian strategis serta keamanan nasional.
Dalam pernyataan resminya, kelompok tersebut menuduh INSS selama ini mengandalkan manipulasi media, propaganda, dan apa yang mereka sebut sebagai upaya “pencucian otak” terhadap publik Yahudi. Mereka juga menyindir keyakinan bahwa perang dapat diselesaikan dalam hitungan hari, seraya menyatakan konflik kali ini akan berbeda dan berkepanjangan.
Handala mengumumkan bahwa mereka akan segera merilis sejumlah dokumen yang diklaim bersifat rahasia, termasuk dokumen terklasifikasi, korespondensi tingkat tinggi, rekaman rahasia, hingga buletin internal yang sangat sensitif.
Klaim peretasan ini muncul beberapa hari setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang disebut Teheran sebagai agresi tanpa provokasi. Dalam perkembangan terpisah, Iran menyatakan telah melancarkan serangan balasan berupa gelombang rudal dan drone ke berbagai target di wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak INSS maupun otoritas Israel terkait klaim pembobolan tersebut. Belum dapat dipastikan pula sejauh mana dampak dugaan peretasan terhadap sistem atau data lembaga tersebut.
Situasi keamanan siber di tengah eskalasi konflik kawasan kini menjadi perhatian, mengingat perang tidak hanya berlangsung secara militer, tetapi juga merambah ke ranah digital dan informasi.






