Kelebihan Pandji di mata Ustadz

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo

✍🏻Ustadz Muhammad Abduh Negara

Kelebihan Pandji itu pintar public speaking, bisa berkomedi, pandai personal branding, punya kepekaan dalam isu sosial politik, dan BERANI.

Apakah Pandji itu ahli politik? Tidak. Dia sendiri pasti menolak label itu. Bahkan, Sammy Notaslimboy, komika yang juga concern dalam politik, sering meledek isi standup politik Pandji yang dianggapnya ‘gitu-gitu aja’. Namun, kelebihannya adalah, dia peka, peduli, dan berani bicara—serta mampu untuk bicara di depan publik.

Kelebihan lainnya adalah, dia open minded, dalam makna sebenarnya, tidak seperti orang-orang sok open minded yang sebenarnya sangat tertutup dari ilmu dan pengetahuan baru di luar circle-nya.

Pandji itu, awalnya punya pandangan sangat negatif terhadap kelompok-kelompok Islam yang dianggap ‘garis keras’. Tampaknya karena pemberitaan media, circle, serta (harus diakui) kelakuan sebagian ‘oknum garis keras’ yang tidak faham fiqih dakwah.

Pandangannya itu perlahan-lahan berubah, sejak dia ‘terpaksa’ dekat dengan kelompok tersebut, ketika sama-sama mendukung Anies di Pilkada Jakarta dulu. Dia kemudian beranggapan, bahwa narasi ‘orang baik vs orang jahat’ yang dia yakini sebelumnya, itu tidak benar atau terlalu simplistis. Persepsi dia sebelumnya (sekaligus persepsi circle-nya), kelompok muslim ‘garis keras’ itu orang jahat, sedangkan orang-orang seperti mereka itu orang baik.

Apakah Pandji itu muslim yang baik? Hehe…, saya tidak menganggapnya begitu. Secara pemikiran, dia masih jauh dari kerangka berpikir Islami. Secara perilaku, anda cek sendiri pengakuannya dalam video-video youtube-nya. Jadi, yang muslim, apalagi yang sudah ngaji, tidak perlu mengagumi atau mengidolakannya, layaknya kekaguman berlebihan terhadap Ferry Irwandi yang saya kritik beberapa waktu lalu. Namun, saat ini sang komika ini tampaknya semakin tertarik dengan Islam, dan mulai mendekat dengan dai-nya para influencer, Felix Siauw. Semoga saja, di fase berikutnya, dia benar-benar menjadi muslim yang baik dan ‘bener’.

Sebagaimana saya tulis di paragraf pertama, Pandji itu BERANI. Dia berani untuk konsisten bersikap kritis. Dia berani menyuarakan kritiknya secara terbuka, tanpa sensor, di atas panggung. Dia berani mengundang 10.000++ orang untuk menghadiri shownya, baik secara langsung, maupun lewat live streaming. Dia berani menampilkan shownya tersebut di Netflix. Yang terakhir ini, yang membuat nama Pandji menjadi trending topic di mana-mana.

Pandji bukan ahli politik, bukan juga orang yang sangat cerdas, tapi dia BERANI mengungkapkan hal-hal yang hanya dipendam oleh banyak orang. Isi pikiran Pandji dan banyak orang (paling tidak: 100-58) sebenarnya sama. Yang membedakan, dia berani mengatakannya dengan lantang, tanpa sensor. Karena itu, ketika dia menyebut kata “Gibran”, kita ikut tertawa bersamanya.

_____________________________________________

*Pandji merupakan seorang berdarah Jawa (Karanganyar) dan Sumatra (Pagar Alam) yang lahir di Singapura, ayahnya bernama Koes Pratomo Wongsoyudo yang berasal dari Karanganyar, Surakarta dan ibunya bernama Siti Khadijah berasal dari Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sang ayah merupakan karateka sekaligus pendiri dari Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) pada tahun 1963.

Pandji merupakan lulusan ITB jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Pandji memulai kariernya sebagai penyiar radio di Hard Rock FM Bandung dari tahun 2001 sampai dengan 2003 bersama Tike Priatnakusumah. Setelah pindah ke Jakarta, ia tetap menjadi penyiar Hard Rock di Jakarta selama tujuh tahun.

Pandji mulai dikenal secara luas ketika memandu acara reality show Kena Deh yang awalnya ditayangkan di Trans7 dan mendapat sambutan populer, kemudian ditayangkan ulang di ANTV pada 2008.

Pada tahun 2011 hingga 2015, Pandji didapuk menjadi pembawa acara pada kompetisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV (SUCI). Mulai dari tahun 2016 hingga saat ini, Pandji “naik jabatan” menjadi juri pada kompetisi tersebut.

Komentar