KAPAN PUASA?

BANYAK yang bertanya kapan Puasa?

Oleh: Ibnu Ahmad

Ijtima terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19:02:57.53 WIB. Tinggi Hilal di Indonesia masih di bawah ufuk, berkisar antara -1° 22′ 51-56″ s.d. -0° 46′ 2,89″. Elongasi berkisar antara 01° 06′ 42,32″ s.d. 0° 51′ 26,84″.

Faedah:
– Pergantian hari dalam kalender hijriah adalah ketika matahari tenggelam di ufuk sebelah barat.
– Pergantian bulan menurut astronomis adalah dari ijtima ke ijtima. Namun menurut syar’i adalah dari rukyah ke rukyah.

Dari data ini bisa kita pastikan bahwa malam Rabu 17 Februari 2026 masih bulan Sya’ban, karena ijtima terjadi setelah terbenam matahari. Dan posisi hilal saat magrib ketika itu minus di bawah ufuk, sehingga MUSTAHIL bisa dilihat baik menurut hisab maupun rukyah.

Karenanya harus istikmal (bulan Sya’ban digenapkan jadi 30 hari -red), 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Tarawih dimulai Rabu malam Kamis, 18 Februari 2026.

  • JIKA ada yang mengaku melihat Hilal pada Selasa malam Rabu, 17 Februari 2026, maka kesaksiannya akan ditolak, ruddat syahadatuhu (Imam Subki).
  • JIKA ada orang yang mengaku mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW dan mengatakan besok adalah puasa atau hari raya, maka pengakuannya tidak bisa dijadikan sandaran, karena masuknya awal bulan tidak didasarkan atas mimpi. (Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam Sabilal Muhtadin).
  • JIKA ada di antara kita yang berbeda dalam memulai dan mengakhiri puasa, maka janganlah saling mengejek, menjatuhkan, karena akan timbul kebencian dan permusuhan sesama umat Islam. Syaitan akan bertepuk tangan kalau sudah demikian, إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu. [QS Al-Maidah: 91]

Kalau orang yang tidak puasa saja bisa santai, mengapa kita yang sama-sama puasa malah saling cekcok.

Kata KH. Hasyim Asy’ari, kalau kita memaksakan pendapat kita pada orang lain, itu bagaikan membangun istana tapi merobohkan satu kota.

Kata seorang filosof yang juga ahli tafsir, Al-Allamah Syekh Thantawi Jauhari, persoalan hisab dan rukyat adalah persoalan enteng. Hisab dan rukyat adalah wasilah untuk mengetahui kapan puasa dan hari raya. Selama ini kita sibuk pada wasilah, namun lupa esensi atau maqshudnya, yaitu berpuasa, ketaatan kita kepada Allah.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita berpuasa dengan sebaik mungkin, sehingga meraih predikat orang yang bertakwa.

Rasulullah SAW akan senang melihat umatnya saling rukun, saling kasih sayang satu sama lain.

*Ket. tambahan:

  • Ijtima’ bulan (konjungsi) adalah fenomena astronomi saat Bumi, Bulan, dan Matahari berada pada posisi bujur langit yang sama, menandai fase Bulan Baru (New Moon).
  • Ini adalah batas akhir bulan Hijriah yang berjalan dan awal bulan baru.
  • Hilal (penampakan bulan baru) dapat diamati setelah ijtima’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. You’re so awesome! I don’t believe I have read a single thing like that before. So great to find someone with some original thoughts on this topic. Really.. thank you for starting this up. This website is something that is needed on the internet, someone with a little originality!