Jusuf Kalla dan Layaknya Sebuah Nobel Perdamaian dan Kemanusiaan

Jusuf Kalla dan Layaknya Sebuah Nobel Perdamaian dan Kemanusiaan

Oleh: Peter F. Gontha

Jika ada satu tokoh Indonesia yang pantas dinobatkan atau menerima Hadiah Nobel Perdamaian, maka nama itu adalah H. Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Saya mengenal beliau dengan baik—bukan hanya sebagai seorang pemimpin, tetapi sebagai manusia yang selalu memikul beban perdamaian di mana pun ia berada.

Beliau adalah pribadi yang tidak pernah mencari panggung, tetapi selalu mencari jalan keluar. Beliau tidak pernah mengejar kemenangan sepihak, tetapi selalu memperjuangkan keberuntungan bersama. Di setiap konflik yang beliau masuki, dari Poso hingga Ambon, dari Mindanao hingga berbagai diplomasi senyap yang tak pernah dipublikasikan, Jusuf Kalla hadir dengan satu keyakinan: perdamaian harus memberi tempat bagi semua orang.

Keinginannya untuk menyelesaikan masalah bukan didasari ambisi politik, tetapi panggilan nurani. Beliau adalah sosok yang percaya bahwa konflik tidak boleh dibiarkan menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Di meja perundingan, beliau selalu mencari titik temu, bukan titik menang. Dan justru karena itu, pihak-pihak yang berseteru bisa mendengar, bisa percaya, dan akhirnya bisa berdamai.

Hari ini, di saat dunia kembali dilanda konflik besar, termasuk di Timur Tengah, kita melihat bahwa sosok dengan kualitas seperti Jusuf Kalla sangat langka. Bila beliau diberi kesempatan untuk menjadi mediator di Timur Tengah—dan beliau memang memiliki kapasitas itu—maka itu bukan hanya menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, tetapi juga kontribusi nyata Indonesia bagi dunia.

Dalam kacamata saya, apabila Nobel Perdamaian ingin tetap bermakna, maka ia harus diberikan kepada tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk mendamaikan sesama manusia, bukan untuk kepentingannya sendiri. Tokoh itu adalah Jusuf Kalla.

Dan jika dunia membutuhkan seorang Sekretaris Jenderal PBB yang mampu berbicara dengan hati, menengahi dengan kepala dingin, dan bertindak tanpa agenda tersembunyi, maka figur itu juga adalah beliau.

Inilah saatnya bangsa Indonesia berdiri bangga, karena kita memiliki seorang pemimpin yang rekam jejaknya diakui dunia, dan hatinya tetap berpihak pada perdamaian.

Perannya sebagai ketua PMI jelas, ACEH!!

Komentar