Seribu Banding -Seratus
Sejak pukul 6.30 tadi sudah tiga helikopter terdengar lewat di udara wilayah dekat kampung kami di Aceh Utara. Arahnya datang dari Lhokseumawe, dan nampaknya menuju Aceh Tengah. Pastinya akan ke sana, karena wilayah itu saat ini tak dapat dilintasi lewat darat. Banyak jalan terputus, jembatan rusak dan tanah longsor.
Saudara sebangsa setanah air Indonesia Raya pasti banyak yang belum tau bahwa bencana banjir bandang dan longsor di Aceh ini benar-benar melumpuhkan.
Dampak yang ditimbulkan lebih daripada tsunami tahun 2004. Tapi masih ada yang tak percaya, mungkin karena melihat korban jiwanya yang sangat jauh lebih sedikit jika dibandingkan tsunami 21 tahun yang lalu. (Bencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menyebabkan lebih dari 170.000 korban jiwa)
Tsunami dahulu hanya terkonsenterasi di wilayah pesisir saja, dan Banda Aceh menjadi pusat dampak terparah. Namun, dampaknya tidak terlalu melumpuhkan pergerakan untuk menyalurkan logistik.
Berbeda dengan bencana banjir sekarang ini. Dari pesisir sampai ke pedalaman mengalami bencana.
Antara kabupaten satu dan lainnya, antara kecamatan satu dengan kecamatan lainnya, bahkan antara kampung yang satu dengan yang lainnya juga banyak yang tidak dapat terhubung.
Dampak kerusakan hampir merata, sedikitnya 16 kabupaten. Di beberapa wilayah seperti Aceh Tamiang, kerusakannya sangat masif. Dari hulu sampai hilir. Kampung-kampung dan kota yang dilalui Sungai Tamiang tersapu bersih. Pilu dan menyayat hati untuk hanya sekadar menontonnya saja. Sudah sepuluh hari mayat-mayat masih ada yang belum dievakuasi. Bangkai-bangkai hewan masih menumpuk. Baunya sangat menyengat hidung. Kendaraan tumpang tindih, puing-puing berantakan, dan lumpur-lumpur mengecor bumi. Masyarakat ke sana kemari mencari bantuan, ada yang dapat, dan masih banyak juga yang belum tersentuh bantuan. Seolah rakyat disuruh mengurus deritanya sendiri.
Di Aceh Tengah, dengan kondisi geografisnya yang berbukit-bukit membuat banyak kampung masih terisolir. Kampung-kampung itu terfragmen dari kesatuan administrasinya. Keluar tidak bisa, yang ingin masuk juga sangat sulit. Jalan darat tak dapat diakses kendaraan apapun, lumpuh total. Hanya bisa diakses dengan telapak kaki, yang medannya banyak menantang dan berbahaya. Barang bantuan yang ada di pelabuhan, bandara, dan posko logistik darurat bencana di beberapa kabupaten/kota tak dapat disalurkan ke sana. Juga ke wilayah di pedalaman di kabupaten yang lain. Distribusi bantuan ke Aceh Tengah saat ini hanya dapat dilakukan lewat udara, dan helikopter menjadi ujung tombaknya. Permasalahannya helikopter tidak dapat membawa muatan bantuan yang banyak. Armadanya juga sedikit. Bukan kurang, tapi sangat-sangat kurang. Butuh pesawat, tapi mau pakai punya siapa. Negara pelit, hitung-hitungan, dan banyak alasan. Padahal masyarakat sudah mulai kelaparan dan sakit. Sedih sekali.
Korban bencana banyak yang rela dan mengikhlaskan rumahnya terseret, terendam lumpur, dan hilang. Tapi lambung di perut mesti menggiling makanan, karena lambung tak dapat dikontrol dengan rasa ikhlas. Negara kemana? Cukong-cukong Sawit dan bos-bos tambang sedang apa? Para pejabat Negara yang datang malah main sirkus dan sinetron banjir. Lumpur seolah catwalk tempat politikus melenggak-lenggok memamerkan kepedulian semu. Sambil membawa janji-janji yang tak terwujud. Sial memang!
Harta benda dan anggota keluarga hilang, listrik padam, internet gangguan, gas langka, air bersih tak ada, kelaparan, sakit, pakaian tersisa di badan, ditambah barang-barang kebutuhan mahal. Sempurna sudah derita masyarakat.
Setidaknya bencana ini, banyak rahasia yang terkuak. Bau busuk ekologis yang ditutup-tutupi tercium juga. Anyir dan amis. Topeng-topeng terbuka, seram dan mengerikan. Setidaknya juga, saudara kami di Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang ikut merasakan perlakuan Negara, sedikit mulai faham tentang alasan mengapa Aceh sejak 49 tahun yang lalu memiliki keinginan yang kuat untuk berdiri di kakinya sendiri. Sebuah cita-cita yang tak pernah surut sampai hari ini. Tak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi, karena ketidak-adilan sudah telanjang di depan mata. Seperti dihianati.
Apa yang disumbangkan oleh masyarakat Aceh untuk Negara, serta apa yang diambil dari Bumi Aceh, dengan apa yang diterima oleh masyarakat Aceh, perbandingannya persis seperti judul di atas.
Arya Purbaya
Tanah Luas (Kab. Aceh Utara), Ahad, 7 Desember 2025.
*fb






Komentar