✍🏻Balqis Humaira
Jujur aja. Gue sebodo amat itu sama MBG-nya.
Serius. Kalau Prabowo mau kasih makan jutaan anak, fine. Bagus. Protein itu penting. Gue gak munafik, anak yang laper emang susah belajar. Itu fakta biologis. Kalau negara punya duit lebih, silakan bakar duit itu buat beli ayam sama susu. Gak masalah.
Tapi masalahnya ada di kata “Kalau”.
Negara ini bukan kantong ajaib Doraemon. Duitnya terbatas. Dan dalam ekonomi, ada hukum besi yang gak bisa dilawan: Opportunity Cost.
Kalau lo pake duit buat A, lo gak bisa pake duit itu buat B. Sesimpel itu.
Nah, ketakutan terbesar gue—dan harusnya ketakutan lo juga—adalah kalau duit buat “isi perut” ini diambil dari pos buat “isi otak”.
Dana Pendidikan.
Ini yang ngeri.
Pernah gak lo mikir, kenapa anggaran pendidikan itu sering jadi sasaran empuk buat diutak-atik?
Jawabannya menyedihkan: Karena pendidikan itu sunyi.
Kalau sekolah rubuh di pedalaman, gak ada yang langsung mati hari itu juga. Kalau guru honorer digaji 300 ribu, mereka tetep ngajar (sambil nangis dalem hati). Kalau kurikulum berantakan, dampaknya baru kerasa 10-15 tahun lagi pas anak-anak itu jadi pengangguran yang gak punya skill.
Pendidikan itu investasi jangka panjang. Dan manusia—terutama politisi yang butuh suara tiap 5 tahun—paling benci sama “jangka panjang”.
Mereka butuh yang kelihatan sekarang.
Nasi kotak itu kelihatan sekarang.
Anak senyum pegang susu itu kelihatan sekarang.
Kenyang itu kerasa sekarang.
Jadi secara politis, MBG itu seksi. Pendidikan itu ngebosenin.
Dan di sinilah letak bahayanya.
Kalau sampai anggaran pendidikan dipangkas, atau dialihkan, atau “dirasionalisasi” (bahasa halus buat dipotong) demi membiayai makan siang ini… kita lagi gali kuburan massal buat masa depan.
Lo mau bangsa yang kayak gimana?
Bangsa yang perutnya kenyang tapi otaknya kosong? Atau bangsa yang mungkin harus berjuang dikit buat makan, tapi nalarnya jalan?
Gue kasih tau rahasia kecil soal kekuasaan.
Penguasa itu sebenernya lebih takut sama orang pinter daripada orang laper.
Orang laper itu gampang dikendaliin.
- Kasih nasi bungkus, mereka diem.
- Kasih BLT, mereka sujud syukur.
- Rasa lapar itu bikin manusia jadi primitif.
- Fokusnya cuma bertahan hidup hari ini.
- Gak mikir besok, gak mikir kebijakan, gak mikir korupsi.
- Yang penting hari ini kenyang.
Tapi orang pinter? Orang terdidik?
- Mereka rewel. Mereka nanya. Mereka kritisi. Mereka liat data.
- Mereka gak mempan dikasih slogan.
- Mereka adalah mimpi buruk buat penguasa yang inkompeten.
Jadi, kalau ada skenario di mana negara lebih milih gedein anggaran makan daripada anggaran pendidikan… lo harus mulai curiga.
Apakah ini murni kemanusiaan? Atau ini strategi “peternakan”?
Lo tau bedanya ngerawat anak sama ngerawat ternak?
- Ternak itu yang penting gemuk. Sehat fisiknya. Dagingnya banyak.
- Tapi lo gak mau ternak lo pinter. Sapi yang pinter bakal nyari cara buat kabur dari kandang. Sapi yang pinter bakal nanya kenapa temennya disembelih.
Kita ini mau nyetak manusia atau nyetak sapi?
Balik lagi ke soal “mulut yang bocor” tadi.
- Pemerintah sekarang lagi banyak banget ngomong soal gizi. Soal stunting. Soal generasi emas.
- Tapi coba dengerin baik-baik. Ada gak mereka ngomong soal naikin gaji guru secara drastis? Ada gak mereka ngomong soal benerin ribuan atap sekolah yang mau ambruk? Ada gak mereka ngomong soal riset dan teknologi?
Jarang. Atau kalaupun ada, suaranya lamat-lamat. Kalah jauh sama suara katering.
Keheningan di sektor pendidikan ini bising banget buat kuping gue.
Dan “Bodo amat”-nya gue punya syarat mutlak.
Prabowo boleh jalanin MBG. Silakan. Itu janji kampanye dia, itu hak dia sebagai pemenang. Gue gak bakal nyinyir soal teknis lapangan yang berantakan, soal keracunan, atau soal logistik. Itu masalah manajemen, bisa dibenerin sambil jalan.
Tapi syarat gue satu: Jangan sentuh duit pendidikan sepeser pun.
Jangan sampai ada satu pun guru honorer yang gajinya telat karena duitnya dipake buat beli telor. Jangan sampai ada satu pun laboratorium sekolah yang batal dibangun karena duitnya dipake buat bayar katering.
Karena kalau itu kejadian, kita rugi bandar.
Makanan itu jadi tai besok pagi.
Pendidikan itu jadi peradaban puluhan tahun lagi.
Milih makanan di atas pendidikan itu kayak petani yang makan bibit padinya sendiri karena laper. Iya, lo kenyang hari ini. Tapi bulan depan lo mati kelaparan karena lo gak punya apa-apa buat ditanam.
Itu bunuh diri pelan-pelan.
Dan yang paling bikin gue muak adalah narasi seolah-olah kita harus milih. Seolah-olah opsinya cuma: “Pinter tapi laper” atau “Bego tapi kenyang”.
Padahal negara ini kaya raya. Sumber dayanya gila-gilaan. Pajaknya ditarik terus. Utangnya nambah terus.
Harusnya kita bisa dapet dua-duanya.
Tapi kenapa kesannya anggarannya mepet banget sampai harus ada yang dikorbanin?
Di situ lo harus liat lagi ke “peta isi kepala” mereka.
Ke mana prioritasnya?
Orang yang kebanyakan ngomong biasanya lagi nutupin ketidakmampuan.
Nah, negara yang kebanyakan ngasih subsidi konsumtif (makan, bansos) biasanya lagi nutupin ketidakmampuan mereka menciptakan lapangan kerja dan sistem pendidikan yang bener.
Lebih gampang bagi-bagi ikan daripada ngajarin mancing, kan?
Lebih gampang nyuapin rakyat daripada nyerdasin rakyat.
Karena nyerdasin rakyat itu berisiko. Rakyat pinter bakal sadar kalau mereka lagi dikibulin.
Rakyat pinter bakal sadar kalau “Makan Gratis” itu sebenernya gak gratis. Itu dibayar pake pajak mereka, atau lebih parah, dibayar pake masa depan anak-anak mereka yang jatah pendidikannya dipotong.
Jadi intinya simpel.
Gue gak peduli motifnya apa. Gue gak peduli siapa vendor kateringnya. Gue gak peduli pencitraannya. Bodo amat.
Tapi begitu lo nyentuh pos pendidikan buat ginian… lo bukan lagi membangun bangsa. Lo lagi ngehancurin fondasinya.
Kita butuh otak, Pak. Bukan cuma usus.
Karena di masa depan, pas minyak habis, pas batubara gak laku, pas bonus demografi lewat… yang nyelamatin bangsa ini bukan seberapa banyak nasi yang pernah kita makan di tahun 2026.
Yang nyelamatin kita adalah seberapa banyak isi kepala anak-anak muda kita.
Dan kalau isi kepala itu kosong karena dananya dipake buat pesta pora makan siang…
Ya good luck.
Kita bakal jadi bangsa kuli yang sehat walafiat. Kuat ngangkat beban, tapi gak ngerti kenapa kita yang harus ngangkat beban itu seumur hidup.
Lagi-lagi, ini soal apa yang gak diomongin.
Mereka teriak “Gizi!”.
Gue dengerin yang gak mereka teriakkan: “Nalar”.
Dan sunyi-nya nalar itu… menakutkan.
(fb)







Komentar