Jokowi-PDIP Dosa Siapa?

Dulu PDIP ingin menang cepat. Bukan dengan menumbuhkan kader ideologis, tapi dengan memetik figur populis.

  • Jokowi, wali kota sederhana dari Solo, dijadikan kendaraan instan untuk merebut Jakarta, lalu Indonesia.
  • Kemenangan datang, tapi di baliknya tersembunyi dosa lama: haus kekuasaan yang menyingkirkan kesadaran ideologis.
  • Megawati mengira sedang membentuk pemimpin patuh.
    Nyatanya, ia sedang melahirkan politisi yang belajar cepat — dan tahu cara memegang kendali lebih kuat dari partainya sendiri.
  • Jokowi tumbuh, tapi bukan di ladang marhaenisme. Ia tumbuh di kebun kekuasaan, di mana citra lebih penting dari cita-cita, dan proyek lebih mudah dijual ketimbang prinsip.
  • Hari ini, negeri ini berdiri di atas gunungan utang.
    Rakyat dicekoki pembangunan yang gemerlap tapi rapuh,
    sementara fondasi ekonominya keropos dan jiwa keadilannya hilang arah.

🔴PDIP menuai apa yang ditanamnya sendiri:

  • Kemenangan tanpa jiwa, kekuasaan tanpa kendali.
  • Jokowi bukan benar-benar wong cilik seperti yang dulu dijual di baliho.
  • Ia hanyalah wong licik yang lahir dari partai yang lebih cinta kemenangan ketimbang kebenaran.
  • Dan dosa politik terbesar itu kini menagih bayarnya:
    rakyat sengsara, negara berutang, dan kekuasaan tertawa di atas reruntuhan nurani.

(By VOXA FILE MEDIA/Nurhilal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *