Jokowi akan ‘paksa’ Prabowo-Gibran 2 periode

Begitulah jawaban Jokowi saat ditanya wartawan tentang peluang Gibran maju sebagai Capres berhadapan dengan Prabowo, seperti yang dibayangkan Ahmad Ali, Ketua Harian PSI baru-baru ini, seandainya Prabowo melepaskan Gibran sebagai Cawapres pada Pilpres 2029 nanti.

Saya perlu disclaimer dulu. Bukan bermaksud kecepatan membahas copas-capres, sementara rakyat susah makan, waktunya masih lama, dan lain sebagainya. Melainkan karena tombal-tombol politiknya, memang sudah ditekan ke arah sana. Bahkan, beberapa saat setelah Prabowo-Gibran dilantik, tombol itu sebetulnya sudah ditekan juga.

Masih ingat, bagaimana Prabowo sibuk bertemu dengan calon menterinya di Kertanegara, sementara Gibran sudah terjun ke sebuah sekolah di Jakarta, sambil membagi-bagi susu dan buku. Lanjut dengan lounching program, Lapor Mas Wapres, persis saat Presiden sedang berada di luar negeri. Hingga Jokowi mengingatkan, Ojo Kemajon.

Artinya, sejak awal Prabowo itu tidak pernah terlalu dianggap. Ojo Kemajon, keluar dari mulut Jokowi karena melihat fakta bahwa Prabowo mampu dan tak bisa dilampaui begitu saja. Prabowo terlihat tak mau berbenturan, tapi terus bergerak ke depan. Tak ada yang dihambat Prabowo, tapi langkah Gibran terhenti, justru seperti distop oleh Jokowi sendiri.

Sebelum pengumuman rencana Jokowi, yang dikatakannya khusus untuk para relawan, yakni Prabowo-Gibran dua periode, Jokowi sudah lebih dulu mengumumkan Prabowo-Gibran satu paket sampai dengan 2029. Ini disampaikan Jokowi karena muncul usulan dari purnawirawan TNI, agar Gibran dimakzulkan. Situasi politik berubah drastis.

Artinya, Prabowo-Gibran dua periode ini setidaknya rencana ketiga dari Jokowi setelah Prabowo-Gibran dilantik. Rencana pertama Gibran bertindak layak Presiden, kedua Prabowo-Gibran sampai 2029, dan ketiga Prabowo-Gibran dua periode. Apakah akan ada rencana keempat? Tentu saja, kalau rencana ketiga juga gagal seperti rencana pertama & kedua.

Saya setuju dengan host Channel Total Politik, Arie Putra bahwa Jokowi itu teknokrat electoral. Seorang teknokrat electoral itu tak terlalu banyak mikir, asal tujuan utamanya tercapai, yakni sebesar-besarnya suara dan menang. Apa pun akan dilakukan dan tak peduli dihina dan direndahkan sekalipun. Tahan banting dan tak pernah kehilangan fokus utamanya.

Jokowi sadar tak mudah menjalankan program Prabowo-Gibran dua periode dan itu, diungkapkan sendiri oleh Jokowi bahwa tak pernah terjadi. Tapi ia tak akan masuk pada rencana program keempat seperti yang dikatakan Ahmad Ali, Gibran akan berhadapan dengan Prabowo, kalau dilepaskan. Seorang teknokrat electoral tak pernah Ojo Kesusu.

Apa yang dilakukan Jokowi saat ini adalah bagaimana Prabowo tak punya pilihan lain untuk menjalankan rencana program Jokowi ketiga, yakni Prabowo-Gibran dua periode. Caranya, elektabilitas Gibran harus tinggi dan PSI harus besar dan solid. Kalau tidak, rencana program ketiga Jokowi akan gagal seperti rencana program pertama dan kedua.

Dan Prabowo, menurut hemat saya, karena sudah berhasil lepas dari belenggu pertama dan kedua Jokowi, maka belenggu ketiga pun akan demikian juga. Orang mengira Jokowi canggih dan belum terkalahkan, tapi lupa bahwa Prabowo sudah masuk ke dalam sejak tahun 2019. Pasti ia jauh lebih canggih dan tak terkalahkan lagi. Bahkan, berani meneriakkan Hidup Jokowi di depan Jokowi, saat ia berhasil lepas dari belenggu Jokowi itu sendiri.

Oleh: Erizal

Komentar