JANGAN PERCAYA JOKOWI, SEGALA HAL YANG BERKAITAN DENGAN KLAIM IJAZAHNYA ADALAH DUSTA BELAKA
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Joko Widodo tidak ingin menuduh sejumlah pihak terlibat dalam kasus ijazah palsunya, baik terhadap JK juga terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS). Dia mengklaim, mempercayakan semuanya pada proses hukum.
Pernyataan normatif JOKOWI ini terkesan negarawan. Namun kita semua tahu JOKOWI, beda antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Atau lugasnya, JOKOWI terbiasa berdusta (bohong).
Coba kita runut kembali. Sebelum menyasar ke JK, pendukung JOKOWI mempersoalkan SBY dan Partai Demorat sebagai orang besar yang membekingi Roy Suryo dkk. Begitu Partai Demokrat menempuh upaya hukum, baru tuduhan itu mereda. Orang-orang yang menuduh SBY seperti Agri Fanani, Irjan Mosato, dll, jelas-jelas pendukung JOKOWI dan bolak balik sowan Solo.
Hari ini pun sama, JK diseret dalam kasus melalui Rismon Sianipar. Kita semua juga paham, Rismon hari ini ibarat robot yang diremot dari Solo. Rismon, harus menjalankan sejumlah misi kerja rodi dari JOKOWI, sebelum mendapatkan SP3.
JOKOWI berulangkali meminta menyerahkan ke proses hukum, membuktikan ijazahnya di pengadilan. Tapi buzzer dan pendukungnya justru berlomba-lomba berburu RJ, memboyong tersangka ke Solo, agar terjadi perdamaian dan JOKOWI dapat menghindari proses hukum.
Benar, bahwa Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang mendatangi JOKOWI. Tapi sebelum itu, Darmizal dan M. Rahmat dari Rejo (Relawan JOKOWI) yang mendatangi dan menego Eggi Sudjana untuk datang ke Solo.
Benar pula, bahwa Rismon Sianipar yang berkunjung ke Solo. Namun, relawan JOKOWI yang menekan dan membuat Rismon Sianipar ‘terkencing-kencing’ dengan dikasuskan tuduhan palsu ijazah ‘Yamaguchi’ Jepangnya. Itulah, yang membuat Rismon meminta ampun ke JOKOWI, agar dapat SP3 melalui RJ.
Rismon hari ini seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, menyerang kesana kemari. Rismon juga dipaksa ‘membersihkan Gibran’ dari dosa tak lulus SMA. Rismon menarik buku ‘GIBRAN END GAME’, dan menulis buku baru. Padahal, tanpa buku Rismon pun, rakyat sudah tahu Gibran tak punya ijazah SMA. Saat buku Rismon ditarik, juga tak akan membuat GIBRAN jadi punya ijazah SMA.
Sama seperti buku ‘JOKOWI WHITE PAPERS’. Cukup dengan melihat foto ijazah JOKOWI, rakyat paham ijazah S-1 UGM JOKOWI bermasalah. Tak butuh teori melangit dan paparan panjang lebar dari Rismon. Jadi, ketika Rismon menarik bukunya, tidak berarti mengubah ijazah JOKOWI yang bermasalah menjadi asli.
Sama juga dengan modus RJ untuk damai yang ditempuh JOKOWI. RJ dan damai itu tidak mengubah ijazah palsu menjadi asli. Semua harus diputuskan di pengadilan. Jadi, kenapa JOKOWI bermanuver dengan laporannya, yang tidak kunjung masuk ke persidangan hingga setahun ini?
Alasannya sederhana. Ijazah itu bermasalah. JOKOWI takut masalah ijazahnya terbongkar di pengadilan dan ketahuan belangnnya.
JOKOWI tak bisa dipercaya. Tak usah memberi atensi atas klaim apapun dari JOKOWI, terkait ijazahnya.
Penulis juga menghimbau kepada seluruh pihak, khususnya umat Islam. Tak usah berinteraksi apalagi berdamai dengan JOKOWI. Dalam kasus KM-50, berdamai dengan JOKOWI sama saja makan daging dan minum darah 6 syuhada KM 50.
Sehingga, pengakuan HRS yang dihubungi orang orang JOKOWI untuk bertemu JOKOWI patut diwaspadai. Karena bertemu dengan JOKOWI tak ada manfaatnya, meski dia berjanji akan bongkar kasus KM-50. Sikap yang benar adalah tak bertemu dengan JOKOWI, atas dalih apapun.
Jangan seperti Eggi Sudjana. Begitu ketemu JOKOWI dan dapat SP-3, langsung menyebut JOKOWI akhlaknya baik. Seolah sudah lupa, JOKOWI ada dibalik peristiwa pembantaian KM-50, Tragedi 870 KPPS meninggal hingga Tragedi Kanjuruhan, pembubaran HTI dan FPI, dll. Orang model begini dibilang akhlaknya baik? (*)







karna Genk solo masih eksis…andai presiden baru babat habis tentu tdk begini ceritanya
#wowo boneka solo
kalau JOKIBUL akhlak nya baik, yg BIKIN rusak negri ini baik juga dong….
DASAR PARA PENJILAT JOKIBUL
🐕 🐕 🐕 PIARAAN