Dulu orang kenal NU karena sarung, ngaji, dan tawadhu’nya kyai. Sekarang semua itu serasa hilang ditelan bumi. Yang tampak di permukaan dan viral justru joget, konser, dan rokok.
Kenapa ormas terbesar di Indonesia yang membawa identitas Islam justru kian jauh dari cerminan Islam itu sendiri?
– Sejarah NU.
Pada awalnya NU lahir dari sosok besar KH. Hasyim Asy’ari pada 31 Januari 1926. Beliau dikenal sebagai sosok yang tawadhu dan zuhud dari urusan dunia. Seperti namanya Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) ia dibentuk agar ulama bangkit dari para anggotanya memberikan pelita bagi dunia.
Namun lambat laun bukan ulama yang lahir melainkan orang-orang yang menyukai gemerlap dunia.
– Muktamar Diwarnai Ricuh, Dugaan Suap dan Korupsi.
Entah apa yang diperebutkan dari Jabatan kekuasaan sebuah organisasi, hingga muktamar NU selalu terjadi kericuhan mulai dari muktamar 32, 33, 34 Hingga muktamar 35 kemarin.
Mirisnya bukan lagi sekadar ricuh adu pukul dan saling dorong antar anggota, tapi juga diwarnai laporan dugaan jual beli suara Rais Aam yang bikin geleng-geleng kepala.
Gus Lilur resmi melaporkan dugaan riswah (suap) ke KPK. Ia menyebut ada pergerakan uang hingga Rp480 miliar menuju arena Muktamar, yang diduga bersumber dari dana hasil korupsi di Kementerian ATR/BPN. Bahkan 130 PCNU dari 17 PWNU disebut siap mengembalikan dana tersebut ke KPK.
Padahal muktamar itu forum tertinggi ulama, bukan arena pilkada. Tapi akhir-akhir ini jadi ajang perebutan kekuasaan layaknya Pilkada.
– Selalu Diwarnai Joget?
Sudah jadi pemandangan umum, di berbagai acara khas NU seperti Maulid, Isra’ Mi’raj, Harlah, hingga Muktamar kerap diwarnai joget. Mirisnya sampai menampilkan joget erotis wanita-wanita berpakaian minim.
Aksi ini bukan hanya dilakukan simpatisan, tapi juga dibenarkan oleh tokoh yang bergelar “Gus” hingga muncul di acara resmi. Jika acara resmi seperti Muktamar saja menampilkan konser joget, bagaimana tidak semakin menjadi-jadi para anggota dan simpatisannya di kalangan masyarakat luas?
– Rokok Jadi Ciri Khas.
Bayangkan KH. Hasyim Asy’ari dengan ketawadhuannya menyaksikan kondisi saat ini, dimana rokok begitu melekat pada identitas NU, bahkan dalam momen sakral berceramah duduk dihadapan jamaah bisa sambil merokok?
Hingga ada anekdot yang beredar: “Kalau cium tangan kiai NU yang tercium bau rokok.” Karena di pesantren, ngopi dan rokok jadi satu paket.
Sampai muncul fenomena Gus muda viral yang ceramah: “Rokok itu tauhid, logo ‘A’ di bungkusnya adalah Allah, setiap isapan dapat pahala.” MUI sampai harus mengecam ceramah tersebut karena dianggap sesat.
Padahal rokok selain jelas merusak, juga tidak beradab jika dilakukan di ruang publik, negara seperti singapura, jepang, prancis dan swedia sampai menindak tegas siapapun yang berani merokok di ruang publik.
Masa yang mengaku muslim merokok saat berceramah?
– Bergelar “Gus” Auto Mulia?
Mungkin ini yang menjadi penyebab merosotnya cerminan Islam pada NU. Rasa hormat dan ta’dzim kepada kyai membuat jamaah juga ikut menghormati keturunannya.
Padahal keturunan kyai sealim apapun orang tuanya, tak menjadikan anaknya otomatis sama alimnya.
Alhasil cukup dengan gelar “Gus”, jamaah dari ayahnya akan ikut mengikutinya, sekalipun dirinya nakal bak preman, ceramah kasar, hingga ceramahnya cabul sekalipun.
Akhirnya yang dihormati bukan ilmunya, tapi nasab dan sensasinya.
Pertanyaannya: Ini masih NU yang didirikan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari untuk mencetak para ulama atau sudah berganti tujuan sedangkan nama sekedar pemanis?
-FB Tahukah Kamu?–








🌿 INSPIRASI ISLAMI HARIAN
Praktis • Edukatif • Inspiratif
🤝 Ahlan wa sahlan di channel resmi islami.top!
Ruang berbagi wawasan keislaman yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
📌 Mari bergabung di kanal islami.top/wa dan sebarkan kebaikan.
✨ Temukan ilmu, inspirasi, dan berbagai manfaat untuk kehidupan sehari-hari.
🎯 Fokus Kajian Kami:
🎥 Video pendek (Faedah harian)
📖 Wawasan keislaman
💡 Tips kesehatan
🔬 Sains: Keajaiban Ciptaan Allah
🤲 Kisah mualaf yang menginspirasi
✨ Quote motivasi islami
📝 Artikel keislaman
📰 Kabar dunia Islam
InsyaAllah, konten disajikan secara rutin dengan mengutamakan manfaat dan sumber yang terpercaya.
📲 Tafadhdholu follow channel kami:
http://islami.top/wa
Barakallahu Fiikum
akibatnya kalo berdiri untuk melestarikan tradisi, memusuhi dakwah tauhid, permisif terhadap penyimpangan