Angkatan bersenjata Iran memulai gelombang baru serangan drone dan rudal berskala besar yang menyasar target di wilayah pendudukan Israel serta aset-aset milik Amerika Serikat di berbagai negara kawasan.
Dalam pernyataan yang dirilis Senin malam, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyebut gelombang ke-11 serangan ofensif dalam Operasi True Promise 4 dilancarkan oleh unit angkatan laut dan dirgantara mereka.
IRGC menyatakan operasi “berskala luas dan berintensitas tinggi” itu menargetkan pusat-pusat intelijen Amerika dan gudang logistik militer di kawasan Teluk Persia. Selain itu, kompleks industri komunikasi Israel di kota Beersheba juga menjadi sasaran, bersama 20 lokasi lain di Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan wilayah Galilea.
Menurut pernyataan tersebut, sejak dimulainya serangan Amerika-Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu, lebih dari 700 drone dan ratusan rudal telah digunakan untuk menghantam 60 target strategis dan sekitar 500 lokasi militer yang terkait dengan AS dan Israel.
IRGC juga mengklaim bahwa jumlah rudal dan drone yang digunakan serta tingkat keberhasilan serangan kali ini melampaui rekor yang terjadi dalam perang 12 hari antara Iran melawan Israel dan AS pada Juni 2025.
Respons atas Serangan ke Iran
IRGC menyebut serangan yang mereka lakukan merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai serangan “brutal dan teroris” terhadap Iran, yang diklaim menyasar warga sipil di rumah sakit, sekolah, dan kantor lembaga penyiaran nasional Iran (IRIB).
Serangan-serangan tersebut, menurut IRGC, justru semakin memperkuat tekad mereka untuk melanjutkan perang secara total terhadap musuh.
Sejak Sabtu, IRGC terus melancarkan serangan balasan terhadap aset militer AS di kawasan serta target di wilayah pendudukan Israel. Konflik ini disebut bermula setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran dan membunuh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.






