
“Iran krisis, Iran di ambang kehancuran karena melawan Israel” BENARKAH?
Oleh: Ismail Amin
Narasi yang terus diulang oleh media Barat dan para propagandisnya sangat klise: “Iran krisis, Iran di ambang kehancuran karena melawan Israel.” Pesannya jelas. Jangan coba-coba melawan Israel, kalau tidak mau mengalami krisis dan ancaman kehancuran seperti Iran.
Tapi benarkah propaganda ini?
- Jika benar Iran sedang kolaps, mengapa tidak satu pun negara memanggil pulang diplomatnya dari Teheran? Mengapa justru banyak negara dari Asia, Afrika, Amerika Latin hingga Eropa Timur justru makin memperkuat hubungan dagang, energi, dan pertahanan dengan Iran? Bahkan negara-negara Arab yang dulunya berjarak kini membuka saluran diplomatik dan ekonomi baru dengan Teheran. Satu-satunya pihak yang menjaga jarak hanyalah mereka yang berada di bawah tekanan Washington, bukan karena Iran tidak lagi menguntungkan, tapi karena ketakutan terhadap sanksi AS.
- Sebaliknya, lihat kondisi Israel hari ini. Kantor kedutaan negara mana saja yang masih beroperasi di Tel Aviv? Sebagian besar sudah tutup. Bukan hanya karena tidak aman, tapi karena banyak negara telah memutus hubungan diplomatik sebuah isolasi nyata akibat genosida brutal di Gaza. Dunia bukan lagi diam: dari Amerika Latin hingga Afrika, dari Eropa hingga Asia, satu per satu menolak legitimasi rezim Zionis. Saat Netanyahu baru ingin bicara di podium PBB saja, mayoritas delegasi negara walkout, tidak mau mendengarkan ocehannya.
- Dan bagaimana dengan argumen yang juga tidak kalah klisenya bahwa Iran salah urus dan miskin? Faktanya, Iran masih aktif menjadi tuan rumah berbagai konferensi internasional, festival budaya, dan pertemuan ekonomi global. Turis dan tamu asing terus berdatangan, menyaksikan sendiri bahwa ekonomi Iran tetap berdenyut meski di bawah embargo.
- Sebaliknya, Israel malah sekarat secara ekonomi dan psikologis. Pariwisata mereka anjlok ke titik terendah dalam sejarah. Maskapai asing membatalkan penerbangan, dan bahkan investor Yahudi global mulai menarik asetnya dari Israel.
- Dalam diplomasi, Presiden dan Menlu Iran tetap bebas bergerak ke berbagai negara, memperluas jejaring strategis dari Beijing hingga Caracas. Sementara Netanyahu apa masih bisa menikmati rasa bebas yang sama? di tengah ancaman surat penangkapan yang telah dikeluarkan Mahkamah Internasional.
- Lebih parah lagi, rakyat Israel sendiri sedang meninggalkan tanah yang katanya dijanjikan. Data resmi menunjukkan tingkat emigrasi warga Israel dalam dua tahun terakhir adalah yang tertinggi sepanjang sejarah mereka. Ketika warga mulai kehilangan keyakinan terhadap tanah airnya, itulah tanda paling nyata kehancuran dari dalam. Sementara di Iran, apa mengalami situasi yang sama?.
- Rakyat Iran meski hidup dalam tekanan ekonomi global, tetap bertahan, tetap percaya pada negaranya, dan tetap bersatu melawan tekanan luar. Tidak ada gelombang eksodus, tidak ada kepanikan nasional.
- Satu-satunya yang membuat Israel masih tampak eksis dan punya kekuatan, ya menyerang terus Gaza dan menebar ancaman ke negara-negara penentangnya. Itu juga atas bantuan AS. Trump sampai merasa perlu berbicara di knesset untuk menyemangati pemerintah dan parlemen Israel yang sedang mengalami krisis kepercayaan dari rakyatnya sendiri.
Jadi, siapa sebenarnya yang berada di ambang kehancuran?






Komentar