Praktisi keamanan dan keselamatan penerbangan, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, menyebut Iran memiliki persediaan rudal dalam jumlah sangat besar yang berpotensi menjadi tantangan serius bagi sistem pertahanan udara Israel maupun Amerika Serikat.
Menurut Agung, Iran diperkirakan memiliki stok lebih dari 20.000 rudal dari berbagai jenis. Dengan persediaan sebesar itu, Teheran disebut mampu meluncurkan ratusan rudal setiap hari selama berbulan-bulan jika konflik berskala besar terjadi di kawasan Timur Tengah.
“Jumlah tersebut memungkinkan Iran melakukan serangan bertubi-tubi dalam jangka panjang, yang akan menguji daya tahan sistem pertahanan udara Israel maupun Amerika Serikat,” kata Agung.
Ia menjelaskan, strategi Iran tidak hanya mengandalkan akurasi atau teknologi rudal semata, tetapi juga taktik saturasi atau serangan dalam jumlah besar untuk membanjiri sistem pertahanan lawan. Dalam skenario seperti ini, sistem pertahanan udara canggih sekalipun bisa kewalahan jika harus menghadapi ratusan target sekaligus.
Sejumlah kajian internasional juga menyebut Iran memiliki salah satu arsenal rudal terbesar di Timur Tengah, dengan berbagai jenis rudal balistik jarak pendek hingga menengah yang mampu menjangkau Israel dan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Rudal-rudal tersebut antara lain tipe Shahab-3, Ghadr, Emad hingga Sejjil, dengan jangkauan mencapai sekitar 2.000 kilometer. Jangkauan ini memungkinkan Iran menyerang target di Israel maupun pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk dari wilayahnya sendiri.
Dalam beberapa konflik di kawasan, Iran bahkan telah menunjukkan kemampuan meluncurkan ratusan rudal dan drone dalam waktu singkat sebagai bagian dari strategi tekanan militer terhadap lawan-lawannya. Serangan semacam ini dinilai sebagai cara untuk membebani sistem pertahanan udara lawan.
Para analis militer menilai konflik modern di kawasan kini tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga daya tahan logistik dan cadangan persenjataan. Negara yang mampu mempertahankan volume serangan dalam jangka panjang dinilai memiliki keunggulan dalam perang yang berlarut-larut.
Karena itu, jika eskalasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus meningkat, faktor stok rudal dan kemampuan produksi persenjataan diperkirakan akan menjadi salah satu penentu utama keseimbangan kekuatan di kawasan.






