Indonesia Masuk Jebakan BoP Yang Merugikan

✍🏻Erizeli Bandaro

Kami bertemu di sebuah ruang privat hotel. Wong datang dari Hong Kong. Robert dari Washington. Robert membuka pembicaraan dengan nada gelisah. “Saya masih tidak mengerti,” katanya pelan, “mengapa Trump begitu cepat bergabung dengan Israel menyerang Iran. Ini bukan operasi kecil. Ini risiko besar.”

Saya belum menjawab. Wong yang lebih dulu bersuara. “Karena Washington tidak benar-benar punya pilihan bebas,” ujarnya datar. “Itu dilema klasik dalam politik aliansi. Jika mereka meninggalkan Israel, kredibilitas Amerika runtuh. Jika mereka ikut, mereka terseret perang.”

Robert mengangguk. “Tapi apakah pengaruh Israel sebesar itu?”

Wong tersenyum tipis. “Kamu melihatnya dari sudut Israel. Coba lihat dari sudut Teluk.”

Wong lalu menjelaskan dengan nada teknis. “Teluk itu bukan sekadar ladang minyak. Ia adalah simpul dalam arsitektur kekuatan global. Bagi Amerika, kawasan itu adalah fondasi militer, fondasi energi, dan fondasi finansial.”

Ia mencondongkan tubuhnya. “Secara militer, Teluk adalah platform proyeksi kekuatan. Pangkalan-pangkalan di sana memungkinkan Amerika memarkir pesawat tempur, sistem pertahanan udara, kapal induk, dan ribuan personel hanya beberapa menit dari Iran. Tanpa Teluk, AS harus bergerak dari jarak ribuan kilometer. Itu bukan lagi proyeksi kekuatan. Itu reaksi terlambat.”

Robert menyela, “Jadi Teluk adalah titik kontrol?”

“Lebih dari itu,” jawab Wong. “Selat Hormuz adalah arteri (urat nadi) energi dunia. Dua puluh persen minyak global lewat sana. Jika arteri itu tersumbat, ekonomi global terguncang. Inflasi melonjak. Pasar runtuh. Maka menjaga Teluk bukan hanya kepentingan regional, tetapi menjaga jantung sistem ekonomi dunia.”

Saya menambahkan, “Dan jangan lupa sistem petrodollar.”

Wong mengangguk. “Sejak 1970-an, minyak dijual dalam dolar. Negara Teluk menerima dolar dan menginvestasikannya kembali dalam sistem keuangan Amerika. Itu menciptakan permintaan permanen terhadap dolar. Defisit AS bisa dibiayai lebih murah. Likuiditas global berputar di sekitar Washington.”

Robert kini mulai memahami arah pembicaraan. “Jadi Teluk bukan sekadar sekutu?”

“Bukan,” jawab saya pelan. “Teluk adalah aset struktural. Infrastruktur militer AS tertanam di sana. Sistem radar terintegrasi. Pertahanan udara saling terkoneksi. Ini bukan hubungan simbolik. Ini arsitektur keamanan yang menyatu.”

Wong menambahkan dengan nada lebih serius “Dan secara geografis, Teluk mengurung Iran dari selatan. Ia juga berada di simpang Asia–Afrika–Eropa. Jika Amerika kehilangan dominasi di Teluk, Iran akan memperluas pengaruhnya. China akan mengamankan jalur energinya melalui Belt and Road. Rusia akan meningkatkan leverage geopolitiknya.”

Robert terdiam lama. Lalu ia berkata pelan, “Jadi balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS itu bukan sekadar balasan militer… itu serangan terhadap reputasi.”

Kami tidak langsung menjawab.

Robert melanjutkan, suaranya lebih berat. “Tujuh pangkalan jadi target. Kapal induk harus menjauh. Jika Teluk mulai meragukan payung keamanan Amerika, maka seluruh arsitektur itu goyah. Israel sebagai perpanjangan kekuatan AS juga ikut terdampak.”

Sunyi sejenak.

Saya menatap Robert, “Dalam politik global,” kata saya perlahan, “kadang yang dihancurkan bukan hanya instalasi militer. Tetapi persepsi. Iran tidak perlu unggul dalam pertempuran tetapi memenangkan perang. Walau kerusakan akibat serangan Rudal Iran itu tidak significant tetapi itu sudah cukup membalik persepsi bahwa kehadiran AS di Teluk tidak ada jaminan stabilitas. Israel bukan lagi kekuatan yang diperhitungkan di Teluk.”

Robert menghela napas. “Artinya… Amerika mungkin masuk dalam permainan yang dirancang untuk memaksanya memilih antara dua kerugian.”

Wong tersenyum samar. “Dalam teori aliansi, itu disebut menghindari abandonment dengan risiko entrapment. Tetapi dalam praktik, garis antara kendali dan jebakan sering kali sangat tipis. Dan China dan Rusia paham betul situasi itu. Maka mereka menjaga perang Israel-AS dengan Iran itu mencapai tujuan strategis mereka.”

“Mengapa Trump mengambil langkah seberani itu?” tanya Robert, nada suaranya lebih tajam dari sebelumnya. “Mengapa ia mau masuk ke dalam dilema yang justru bisa menguntungkan China dan Rusia?”

Saya menatapnya lama.

“Karena ia tidak melihatnya sebagai perang,” jawab saya pelan. “Ia melihatnya sebagai operasi. Satu pukulan cepat. Satu serangan presisi. Bukan invasi. Bukan perang total. Trump kemungkinan menghitung bahwa keunggulan militer Amerika masih absolut. Kapal induk di laut. Rudal jelajah jarak jauh. Pembom strategis. Sistem komando dan kontrol yang terintegrasi. Dalam kalkulasinya, Iran bisa dilumpuhkan dalam hitungan hari, terutama simpul komando militernya dan pusat gravitasi politik yang berporos pada Ali Khamenei.” Kata saya.

”Dan lagi serangan dari laut, bukan dari darat. Tanpa pengerahan besar pasukan. Tanpa pendudukan wilayah. Tanpa perang panjang seperti Irak atau Afghanistan. Itulah doktrin pukulan cepat, shock and paralysis.” Kata Wong menambahkan.

Robert menyela, “Jadi ini bukan soal sekedar gepolitik?”

“Bukan,” jawab Wong. “Ini soal kalkulasi. Trump yakin dominasi udara dan teknologi presisi cukup untuk mengakhiri konflik sebelum eskalasi meluas. Dan kemudian memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk menandatangai perjanjian seperti Indonesia dengan AS lewat ART. Kedaulatan tidak ada tanpa dukungan AS. Kira-kira begitu”

“Masalahnya, Trump mungkin terlalu percaya pada keunggulan teknologinya.“ Kata saya. “Iran bukan Irak tahun 2003. Iran memiliki jaringan rudal berlapis, sistem pertahanan yang tersebar, serta kemampuan balasan yang tidak sepenuhnya bisa dinegasikan. Lebih dari itu, Iran bukan hanya negara. Ia adalah simpul dalam jaringan regional dan global. China tidak ingin jalur energinya terguncang. Rusia tidak ingin keseimbangan regional bergeser terlalu jauh ke tangan Washington. Ketika Iran terancam runtuh, bukan hanya Teheran yang terancam, tetapi struktur pengaruh yang lebih luas.” Sambung saya.

Robert menghela napas.

“Jadi pukulan cepat itu berubah menjadi permainan besar?”

“Ya,” jawab saya. “Karena dalam geopolitik, tidak ada ruang hampa. Setiap langkah militer memicu respons dari aktor lain. Jika Iran dilumpuhkan sepenuhnya, itu bukan hanya kemenangan Amerika, itu pergeseran keseimbangan global. Dan kekuatan lain tidak akan diam.”

Robert menatap ke luar jendela. “Artinya, Trump mungkin tidak berniat memulai perang besar. Tetapi ia membuka pintu pada dinamika yang lebih besar dari yang ia bayangkan. Dan ini benar benar merugikan reputasi Trump di dalam negeri.”

Saya mengangguk perlahan. “Dalam strategi, sering kali kesalahan bukan pada niat. Melainkan pada asumsi bahwa eskalasi bisa dikendalikan sepenuhnya. Dan sejarah, berulang kali, menunjukkan bahwa perang jarang berhenti di tempat yang direncanakan.”

“Bagaimana dengan Indonesia? Tanya Robert. “Bukankah Prabowo menjadi anggota dari Board of peace bentukan Trump. Apakah ada pengaruhnya dengan posisi Indonesia dalamn geopolitik global?”

“Ya tentu” kata Wong “Risiko utamanya bukan langsung ekonomi, melainkan persepsi geopolitik. Dalam ekonomi global, persepsi bisa berdampak pada arus investasi asing, stabilitas nilai tukar, country risk premium dan sikap lembaga pemeringkat. Indonesia selama ini dikenal menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif. Artinya, tidak menjadi satelit kekuatan besar, tidak masuk dalam blok konfrontatif. Aktif dalam diplomasi perdamaian melalui forum multilateral. Nah, keterlibatan Indonesia dalam BoP dianggap sebagai keberpihakan, maka Indonesia bisa ditempatkan dalam “bingkai ketidakpastian” oleh pasar global.

Ketidakpastian ini bukan berarti sanksi atau hukuman langsung. Tetapi bisa berupa investor menunggu (wait and see). Modal jangka pendek keluar lebih cepat. Rupiah lebih sensitif terhadap gejolak global,” lanjut Wong.

“Kenapa ekonomi Indonesia sensitif?” Tanya Robert

“Karena Indonesia masih bergantung pada stabilitas pasar keuangan global. Memiliki kepemilikan asing signifikan di SBN (surat utang). Sensitif terhadap pergerakan dolar dan harga minyak. Dalam situasi perang besar, investor global cenderung mengurangi eksposur ke emerging market. Memilih aset yang lebih likuid dan aman. Jika pada saat yang sama Indonesia dianggap mengambil posisi geopolitik yang berisiko, persepsi itu bisa memperbesar tekanan.“ Kata Wong.

“Intinya, yang berbahaya bukan sekadar keterlibatan dalam BoP, tetapi bagaimana dunia membaca keterlibatan itu. Dalam ekonomi global yang rapuh, persepsi keberpihakan bisa meningkatkan premi risiko. Ketegasan netralitas bisa menjaga stabilitas.
Dalam geopolitik modern, stabilitas ekonomi bukan hanya soal angka, tetapi soal citra posisi strategis.“ Kata saya.

“Dan“ Wong menambahkan “Indonesia mengorbankan posisi strategisnya demi kebijakan luar negeri yang absurd.“

Lampu kota di luar jendela berkilau tenang. Namun di peta dunia, garis-garis kekuatan sedang bergeser. Dan di antara reputasi, dolar, minyak, dan pangkalan militer — perang bukan lagi sekadar soal senjata. Ia menjadi soal siapa yang mampu menjaga arsitektur kekuasaan tetap berdiri.

Sumber: https://ebandaro.id/2026/03/04/as-dalam-posisi-dilema-membantu-israel/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Dan Wowo Gembrotspun berteriak: HEI ANTEK-ANTEK ASING! HIDUP JOKOWI!. Demi mendapat nama dalam sejarah, dan ingin dikatakan berkontribusi dalam perdamaian di Palestina, rela tunduk pada AS. Kalo ditanya: “Kok gitu, Mbrots ?” Jawabannya pasti: “Itu bagian dari strategi…” Kenthutmu bau.