Heboh seorang konten kreator yang lulus cum laude dia diminta take down (hapus) postingan “Cumlaudee tapi jadi IRT (Ibu Rumah Tangga) gapapa kan”. Kabarnya disuruh take down karena dia memakai almamater dan postingannya bisa berdampak ke kampus (almamater).


Saya sempat lihat postingannya, keknya ga ada masalah.
Kalau saya jadi Pejabat Kampusnya, justru akan DM begini,
“Mbak, terima kasih ya. Terima kasih sudah menunjukkan kepada publik bahwa ilmu tidak berhenti di ruang sidang skripsi, dan almamater tidak selesai begitu telah foto wisuda. Terimakasih lho sudah mengedukasi bahwa puncak karir tertinggi perempuan itu justru menjadi seorang Ibu Rumahtangga yang baik dan benar. Tentu akan lahir generasi emas 2045 jika yang mendidiknya di rumah adalah seorang perempuan well educated. Cumlaudee pula. We are proud of you!”
Hal ini sekaligus menunjukkan cara kita memandang makna karier dan keberhasilan.
Seolah-olah, ketika seorang perempuan memilih pulang ke rumah, lalu mendidik anak-anaknya dengan ilmu dan adab, ia sedang “menurunkan martabat” kampus yang membesarkannya. Padahal justru di situlah ilmu diuji paling nyata.
Kita sering lupa bahwa puncak karier bukan selalu jabatan, tetapi pengaruh. Dan pengaruh paling panjang umurnya dalam sejarah peradaban adalah pengaruh ibu terhadap generasi.
Rumah yang diasuh oleh perempuan well-educated bukan rumah biasa. Rumah itu menjadi madrasah pertama dan fondasi karakter bangsa.
Generasi Emas 2045 tidak lahir dari slogan dan seminar. Melainkan dari dapur-dapur yang hangat, dari obrolan sederhana ibu-anak, dari teladan akhlak yang diulang setiap hari. Semuanya membutuhkan perempuan yang berilmu, matang secara psikologis, dan sadar peran, bukan sekadar perempuan yang “sibuk terlihat sukses” di luar rumah. Bukan berarti karir di luar rumah itu tidak penting, tetapi perempuan harus sadar prioritas. Urutannya: Istri, Ibu, baru peran sosial (publik).
Jika peran ketiga (sosial/publik) mengganggu dua peran lainnya ya sudah keharusan mendahulukan yang lebih prioritas.
Almamater seharusnya bangga.
Sebab ilmu alumninya hidup bahkan ketika gelar disimpan rapi, dan peran sebagai IRT dipilih dengan sadar untuk menumbuhkan peradaban dari dalam rumah.
(Rahmatul Husni)
*sumber: fb







Komentar