Dari PENGIDOLAAN Ke PENJATUHAN
Di era medsos, netizen membangun “pahlawan” secepat mereka menghancurkannya.
Dalam ruang digital yang diatur oleh emosi dan algoritma, kekaguman yang besar selalu saja diikuti oleh kejatuhan yang menyakitkan.
Inilah yang disebut “idol destruction syndrome”.
Yaitu fenomena ketika netizen mengidolakan seorang tokoh sedemikian tinggi hingga pada akhirnya merasa perlu menjatuhkannya.
Fenomena ini lahir dari dinamika psikologis netizen yang haus akan harapan dan representasi moral.
Dalam kasus Purbaya misalnya, netizen membutuhkan seorang “hero” di tengah ekonomi yang gagal dan praktik pemimpin yang sarat pencitraan.
Maka ketika Purbaya tampil dengan kesederhanaan dan kejujuran yang otentik, netizen segera menyambutnya sebagai “pemimpin penyelamat”.
Namun, pengidolaan yang berlebihan adalah awal dari tragedi.
Karena dalam proses idealisasi itu, netizen seringkali tak mengagumi orangnya, tapi cerminan harapan mereka sendiri. Purbaya menjadi imajinasi kolektif netizen tentang sosok pemimpin ideal.
Namun ketika di kemudian hari harapan itu hanyalah pepesan kosong, maka netizen kecewa, bahkan merasa dikhianati.
Di sinilah “sindrom penghancuran idola” bekerja.
Dari cinta menjad ikecewa.
Dan dari kecewa lahirlah kebutuhan untuk menjatuhkannya.
Engagement di kalangan netizen yang lahir dari pujian sama kuatnya dengan yang lahir dari kemarahan.
Maka, puncak popularitas seringkali bukan kemenangan, tapi tanda bahwa kejatuhan sudah menunggu di tikungan.
Kasus yang menimpa Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, atau Nadiem Makarim memberi peringatan halus:
“Semakin tinggi kekaguman, semakin besar pula potensi kekecewaan.”
Ketika meraka mengambil keputusan yang tak populer. Atau sikapnya tak lagi sesuai dengan “citra ideal” yang dibangun publik…
Maka pusaran berbalik dari pemujaan menjadi penjatuhan.
Hati-hati Pak Purbaya ❤️
by @yuswohady







Komentar