Hanya Cerita Fiksi

Kepikiran bikin cerita fiksi.

Premis:
Seorang bapak, kepala keluarga, tiap malam nongkrong di panggung dangdut kampung. Nyawer.
Awalnya receh.
Lama-lama jutaan.
Sampai ngutang koperasi.

Di rumah:
Anak 4 orang
SPP nunggak
Istri gali lubang tutup lubang
Utang warung menumpuk
Tapi dia merasa dirinya benar.

Konflik:
Istri menegur.
“Itu uang buat sekolah anak, Pak.”
Dia marah.
Merasa tidak dihargai.
Merasa dizalimi.

Lalu dia curhat:
“Saya dituduh menghamburkan uang buat nyawer. Padahal itu uang hasil penghematan dari jajan anak dan belanja makan.”

Si Bapak ini beralasan:
“Kalau uangnya saya kasih ke rumah, nanti juga habis dikorupsi keluarga saya. Mending saya sawer. Jelas transparan. Saya lihat langsung hasilnya. Penyanyinya senang.”

Ketika diminta berhenti, si Bapak bilang kalau penyanyi dangdut yang disawer itu banyak dan mereka orang yang membutuhkan. Belum lagi para band pendukung dan pembuat panggung. Mereka semua akan kehilangan pekerjaan 🙃

Netizen terbelah:
Ada yang simpati
Ada yang menghujat

Menurut kalian, ending yang paling realistis buat cerita ini apa ya?

(dari akun X Dosen Pembimbing @Dospemz dengan sedikit perubahan dan tambahan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar