Banyak orang yang ingin Gus Baha memberi pengajian dalam bahasa Indonesia, bukan dalam bahasa Jawa, karena menganggap itu bisa menjangkau lebih banyak orang dan lebih luas manfaatnya. Ini membuat beberapa orang bertanya pada beliau, tentang alasan beliau tetap mempertahankan ceramah dalam bahasa jawa, walau banyak yang ingin beliau ceramah dalam bahasa Indonesia.
Jawaban beliau simpel saja “saya kyai lokal!!”.
Ya beliau menganggap beliau sendiri ulama lokal, makanya memakai bahasa lokal, tidak memakai bahasa nasional, sasaran beliau memang audien lokal, disatu sisi jawaban ini menunjukkan sifat tawadhu beliau, tapi disisi lain, jawaban ini menunjukan satu lagi dari sifat spesial dari beliau yaitu “Faqih!! Faqih!! Faqih!!!”. Itulah jawaban para faqih.
Ini lah yang aku pelajari dari guru-guruku, kebanyakan mereka tidak mau direkam, kalaupun ada, biasanya pada pembahasan yang mereka yakin tidak akan kontroversi, jadi hati-hati sekali, bukan karena mereka ga mau ilmu mereka tersebar luas, tapi menurut mereka ada cara lain yang lebih efektif dalam menyebarkan ilmu.
Dimana cara itu, efeknya jauh lebih kuat, dan tentu akan lebih efektif dalam menghindari fitnah dan yang pasti bisa jangka panjang. Caranya adalah dengan memperbanyak kaderisasi, dimana kader-kader inilah yang nantinya akan menyebarkan ilmu mereka diseluruh pelosok desa, dan bisa kenalan dan dijumpai langsung oleh masyarkat untuk bertanya masalah agama yang mereka perlukan, dan dampaknya bisa jangka panjang
Apalagi jika ada diantara kader itu yang punya kualitas tidak hanya dilevel mampu menyebarkan ilmu, tapi juga mampu mengkader orang yang lain untuk melanjutkan estafet keilmuwan, tentu efeknya akan jauh lebih besar, apalagi di daerah yang menjadi medan dakwahnya, dengan resiko gangguan hanya tingkat lokal, pasti akan jauh lebih hemat energi, karena jauh dari sorotan yang sangat rawan fitnah dengan jangkauan luas
Aku tidak mengatakan dakwah di media massa atau media sosial itu tidak bermanfaat, tentu bermanfaat, dan harus ada yang masuk untuk berdakwah ke wilayah itu, tapi sekedar menutup fardhu kifayah, bukan menjadi wasilah utama, itu karena resiko yang ditimbulkan jauh lebih besar dibanding efek jangka panjang.
Bayangkan satu blunder, yang kadang cuma salah paham, itu bisa mengakibatkan satu negara heboh, masalahnya kita tidak mengenal mereka, karena itu mereka tidak peduli dengan maksud sebenarnya, dan mereka akan meninggalkan dan melupakan semua kebaikan dai itu, hanya karena salah paham, yang diingat hanya kesalahan saja yang buruk saja, seolah tidak ada yang benar yang disampaikan dai itu
Jadi resikonya adalah seorang dai ditinggalkan hanya karena salah paham, bagaimana jika salah benaran. Salah satu sebab utama adalah jangkauan luas mengurangi, keakraban antara pendakwah dan yang didakwahkan nyaris tidak ada, sudah pasti efeknya sangat buruk. Dan tau yang lebih buruk dari itu? Masalahnya semua dai itu manusia!! Jadi sangat wajar sesekali berbuat salah atau disalah pahami
Jika semua pendakwah ditinggalkan dan tidak dipercaya lagi karena satu kesalahan yang manusiawi, lalu adakah manusia yang bisa dipercaya untuk berdakwah? Itulah sebabnya sangat orang zaman sekarang ilfil sama ustadz, hampir tidak ada yang tidak membuat mereka ilfil, tapi begitulah dakwah dengan jangkauan luas, jangkauan memang luas, tapi efeknya ga sebanding dengan resiko
Sebenarnya, kalau bukan karena harus ada celah yang ditutupi dengan dakwah melalui media massa, maka mimbar dakwah dimedia yang punya jangkauan luas Itu sudah seharusnya dihindari, jadi begitulah seharusnya cara kita melihat dakwah dimedia, kita harus berdakwah disana karena terpaksa, bukan malah rebutan untuk dikenal lebih luas
Ini beda pada dakwah dengan cara kaderisasi, dimana resiko fitnah besar lebih rendah, Karena faktor saling mengenal dan ada keakraban, jadi satu atau dua kesalahan manusiawi bagi kebanyakan manusia normal akan sangat dimaklumi. Dengan resiko efek jangka panjang, tentu akan sangat efektif, hanya saja dakwah seperti ini memang butuh kesabaran lebih, karena butuh waktu yang lama, karena ada proses perubahan sistem masyarakat dalam dakwah itu butuh waktu
Dan tentu butuh ikhlas yang ekstra juga, karena kita harus bekerja tanpa sorotan, atau dengan sorotan terbatas, yang mana godaan untuk lebih dikenal itu ada. Semua tentu ada kurang ada lebih, tapi bisa dipahami, bahwa fokus utama tetap pada dakwah tatap muka, kedekatan antara orang berilmu dengan masyarakat, agar ilmu mudah dijangkau
Dan terakhir tentu saja kaderisasi, dimana dengannya jangkauan lebih luas, tapi efeknya bukan jangka pendek, tapi jangka panjang. Itulah fokus mayoritas para masyaikh kita dalam dakwah, jika ada sebagian mereka muncul, atau murid mereka dipaksa muncul, maka itu karena darurat aja, sekedar menutupi fardhu kifayah
Jadi dakwah resiko tinggi dengan hasil kurang efektif ini memang harus dihindari, apalagi dizaman fitnah seperti sekarang, kecuali memang ada wilayah yang harus ditutupi, tapi ya dharurah tuqaddar biqadriha, ya anggap aja itu darurat, tapi dalam mengamalkan yang dharurat ya cukup sekedarnya, jangan malah berlebihan, apalagi menikmati.
Sekilas jika beliau berbahasa nasional memang tampak bagus, tapi beliau tau, dengan berbahasa jawa, maka itu lebih tepat, lebih sesuai dengan dhawabit fikih, begitulah pandangan faqih, selalu mampu melihat lebih dalam pada perkara agama, beliau memang sudah berada dilevel lain, yaitu dilevel para ulama, maka dari itu sering disampaikan beliau “jangan ngatur ngatur ulama”. Hehe. Wallahualam
(Fauzan Inzaghi)







Komentar