Geisz Chalifah: Saya salah satu orang yang tidak percaya pada dongeng bahwa di tanah suci Mekkah segala perilaku akan langsung mendapat balasan

Lama-lama Gue Digampar Malaikat Kalau Begini Melulu

✍🏻Geisz Chalifah

Saya salah satu orang yang tidak percaya pada dongeng bahwa di tanah suci Mekkah segala perilaku akan langsung mendapat balasan; bahwa siapa pun bisa tiba-tiba kena ujian aneh atau musibah karena hal sepele.

Cerita-cerita begitu beredar dari mulut ke mulut; terdengar meyakinkan, tapi bagi saya tetap saja tidak masuk akal dan cenderung mengada-ada. Saya bahkan berkesimpulan–setidaknya dari pengalaman saya–bahwa dongeng itu dipelihara oleh sebagian pemilik travel. Tujuannya? Supaya kalau ada komplain, mereka bisa menimpakan semuanya pada “ujian Allah”. Misalnya mobil tak sesuai janji, hotel mendadak jauh, fasilitas tidak tersedia; semuanya dibungkus dengan kalimat, “Namanya juga ibadah, pasti ada ujiannya.”

Kalau yang bersifat pribadi ya awalnya adalah kelalaian kita sendiri. Karena Allah itu menyambut tamuNya bukan menghukum.

Sementara saya sendiri–entah karena selalu berpikir positif atau memang “menggampangkan”–Alhamdulillah tidak pernah mengalami hambatan berarti. Mau pergi haji? Ya berangkat saja di tahun itu juga.

Kalaupun ada masalah biasanya bersitegang dengan askar di seputar Mekkah. Entah saya yang tak disiplin atau mereka yang bertindak semena-mena.

Suatu Ramadan, setelah salat tarawih selesai di sebuah rumah di Rawamangun, yang banyakan ngobrolnya daripada ibadahnya.

Ramadhan memang membuat hidup berubah, malam jadi siang dan siang jadi malam. Baru tidur setelah subuh.

Saya bilang ke teman di sebelah saya, “Gue kangen Madinah. Gue mau umroh.”
Umar Naser, dipanggil Komenk, langsung menoleh, “Lu serius?”
“Sangat serius.” Jawab saya.
Teman saya satunya lagi menimpali, “Kalau serius, besok kasih paspor lu ke gue.”

Mendengar rencana umroh itu, yang lain ikut nimbrung. Dalam hati saya cuma bisa mengeluh, “Yah… rusak lagi deh umroh gue.”

Seminggu kemudian kami sudah duduk manis di pesawat, lengkap dengan rombongan tambahan. Seperti biasa: semuanya mudah, semuanya enteng–yang sulit justru menahan becanda. Entah yang keberapa kalinya saya umroh dengan mereka.

Hotel tempat menginap itu megah dan mewah; makanan untuk buka puasa tersedia lengkap. Namun yang terjadi… kami buka puasa di kamar, menggelar tiker plastik. Dengan nasi uduk lengkap dengan sambelnya, ayam goreng, tahu, tempe, dan lain-lain. Nasi uduk itu mengalahkan semua kemewahan makanan hotel. Teman yang tinggal di sana bersama keluarganya setiap hari membawakan makanan Indonesia, tinggal pesan.

Tengah malam sekitar jam 1 malam. Di kamar hotel suasananya riuh. Teman-teman sibuk saling menggoda dan tertawa. Saya berdiri, mengambil wudhu, lalu bersiap ke Masjidil Haram.
Komenk bertanya, “Lu mau ke mana?”
“Gue mau ke masjid,” jawab saya.
“Ntar aja, barengan.”

Saya menoleh dan berkata, “Kalau begini terus, lama-lama gue digampar malaikat nih.”

Mereka tertawa keras. Ya, memang kadang kita alpa; saat waktunya serius beribadah, justru lebih banyak dipakai untuk ngobrol dan bercanda. Saya pun salah satunya.

Di Madinah ataupun di Mekah waktu seolah berjalan melambat; tak ada yang harus diburu-buru, tak ada janji-janji yang berpindah-pindah tempat. Hidup hanya menunggu waktu azan.

Semuanya terasa mudah, semuanya terasa gampang–bahkan kelalaian kecil pun terasa ringan.

Namun setiap kali saya melangkah ke masjid malam itu, saya selalu ingat: ada adab yang harus dijaga, ada waktu yang harus ditundukkan. Sebab kalau manusia berperilaku tidak tahu diri, menggampangkan melulu, lama-lama malaikat bisa turun tangan. (*)

Komentar