Gas Pink, Tertawa Sesaat, Risiko Seumur Hidup
Oleh: Dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP
Beberapa hari terakhir media sosial ramai dengan foto tabung gas warna pink. Bentuknya lucu, warnanya manis, kesannya tidak berbahaya. Katanya sih cuma “gas buat whipped cream”. Tapi di titik inilah saya merasa perlu berhenti sejenak dan bertanya: sejak kapan alat industri kuliner berubah jadi mainan rekreasi?
Gas yang ada di tabung itu adalah nitrous oxide (N₂O). Tolong jangan dibayangkan seperti nitric oxide di film Fast and Furious yang bikin mobil ngebut. Ini beda.
👉Nitrous oxide adalah gas yang di dunia medis digunakan sebagai anestesi ringan dan analgesik—bisa mengurangi nyeri dan membuat orang merasa ringan, bahkan euforia.
*contohnya: digunakan untuk pembiusan pada pencabutan gigi, penjahitan luka ringan.
Kesalahpahaman paling besar di masyarakat adalah menganggap “karena dipakai dokter, berarti aman dipakai siapa saja.” Ini logika yang sama bahayanya dengan berpikir pisau bedah aman dipakai anak kecil karena dokter memakainya setiap hari. Dalam dunia medis, gas ini dipakai dengan protokol ketat, pengawasan ketat, dan indikasi yang jelas.
Cara kerja nitrous oxide sebenarnya sederhana. Gas ini menekan sistem saraf pusat, menurunkan kesadaran sementara, memberi sensasi ringan, melayang, bahkan tertawa. Tapi di saat yang sama, refleks tubuh juga ikut tumpul—termasuk refleks napas dan refleks menelan.
Itulah sebabnya, sebelum anestesi, pasien selalu diminta puasa minimal 6 jam untuk makanan berat dan 2 jam untuk cairan bening. Tujuannya satu: mencegah isi lambung naik dan masuk ke paru-paru saat kesadaran menurun. Dalam dunia medis, kejadian ini disebut aspirasi—dan ini bisa mematikan.
Sekarang bayangkan gas ini dipakai untuk “rekreasi”. Tidak puasa. Tidak screening. Tidak ada oksigen pendamping. Tidak ada dokter. Tidak ada alat monitor. Banyak video di media sosial menunjukkan anak muda menghirup gas ini, tertawa beberapa detik, lalu jatuh ke belakang, lalu bangun lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Yang tidak terekam kamera adalah apa yang terjadi di dalam tubuh mereka.
Saat gas dihirup, oksigen di paru-paru tergeser. Terjadi hipoksia sesaat—otak kekurangan oksigen. Sensasi “fly” itu bukan tanda bahagia, tapi tanda otak mulai kekurangan suplai oksigen. Kalau ini terjadi berulang, risikonya bukan cuma pingsan, tapi kerusakan saraf, gangguan jantung, bahkan kematian mendadak.
Masalahnya jadi jauh lebih serius pada orang dengan GERD atau sfingter esofagus yang lemah. Saat kesadaran turun, isi lambung bisa naik, masuk ke saluran napas. Asam lambung yang masuk ke paru-paru bisa menyebabkan pneumonia aspirasi akut. Dalam kondisi tertentu, ini bisa terjadi cepat, sunyi, dan fatal.
Belakangan muncul spekulasi publik, jangan-jangan kematian seorang influencer yang ramai dibicarakan ada hubungannya dengan tren ini. Saya perlu tekankan dengan jujur: kita tidak tahu. Tanpa data medis, autopsi, dan informasi yang valid, kita tidak boleh menuduh. Tapi secara medis, skenario seperti ini sangat mungkin terjadi.
Nitrous oxide bukan mainan. Dalam penggunaan berulang, gas ini juga bisa mengganggu metabolisme vitamin B12, menyebabkan kerusakan saraf perifer, gangguan keseimbangan, bahkan gangguan mental. Banyak kasus di luar negeri menunjukkan pengguna kronis mengalami kesemutan permanen, lemah kaki, hingga lumpuh.
Yang lebih menyedihkan, banyak yang melakukannya sendirian. Tanpa pengawasan. Kalau terjadi muntah, aspirasi, atau henti napas, tidak ada yang menolong. Tidak ada tombol “rewind” di tubuh manusia.
Pelajaran besarnya sederhana tapi sering diabaikan: sesuatu yang tampak aman di satu konteks bisa sangat berbahaya di konteks lain. Gas anestesi adalah alat medis. Whipped cream charger adalah alat industri. Keduanya bukan alat rekreasi.
Kita sering menertawakan peringatan dokter sebagai berlebihan. Sampai suatu hari, yang terjadi bukan lagi video viral, tapi berita duka. Dan saat itu, penyesalan selalu datang terlambat.
Kalau ada satu pesan yang ingin saya titipkan: jangan bermain-main dengan sesuatu yang bahkan dokter pun menggunakannya dengan rasa takut dan hormat. Tubuh manusia bukan arena eksperimen.
EPW 29/1/2026







Komentar