Oleh: Ismail Amin
Ada postingan di fb “FAKTA MENGEJUTKAN: YANG TIDAK BERIMAN JUSTRU LEBIH TENANG MENJELANG AJAL”.
Tenang menghadapi kematian belum tentu berarti aman setelah kematian..
Tulisan tentang Phil Zuckerman dan masyarakat Denmark-Swedia ini sebenarnya menarik, tetapi ada satu kekeliruan mendasar, di sini saya akan memperlihatkan lompatan logikanya.
Pertama, apakah orang yang tidak beragama dapat berbuat baik?
Jawabannya, dapatlah.
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada Tuhan pasti menjadi pencuri, pembunuh, atau manusia tanpa empati. Manusia mempunyai akal, nurani, pengalaman sosial, pendidikan, hukum, dan kemampuan untuk mengenali sebagian kebaikan.
Karena itu, menemukan masyarakat sekuler yang tertib bukanlah pembuktian bahwa Tuhan tidak diperlukan, apalagi pembuktian bahwa akhirat tidak ada.
Itu hanya membuktikan satu hal yang jauh lebih sederhana, yaitu orang yang tidak religius pun dapat menjalankan sejumlah nilai moral dan membangun institusi sosial yang baik. Lho kok bisa? Ya karena keberadaan akal itu tadi. Akal bisa menjadi perangkat dalam diri manusia untuk mengenali kebaikan. Yang beragama dan atheis sama-sama percaya bahwa kejujuran itu baik.
Dan seorang Muslim tidak perlu takut mengakui fakta itu.
Negara yang tertib bukan bukti metafisis. Denmark dan Swedia bisa memiliki kriminalitas rendah, pelayanan kesehatan yang baik, pendidikan kuat, tingkat kepercayaan sosial tinggi, dan pemerintahan yang relatif bersih.
Baik.
Tetapi apa hubungan logisnya dengan pertanyaaan, apakah manusia akan dibangkitkan setelah mati?
Tidak ada.
Rumah sakit yang bagus tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.
Indeks korupsi yang rendah tidak membuktikan bahwa manusia tidak mempunyai kehidupan setelah kematian.
Sistem jaminan sosial yang baik juga tidak dapat menjawab apakah kesadaran manusia berakhir sepenuhnya saat tubuh mati.
Itu dua kategori pertanyaan yang berbeda.
Yang satu adalah pertanyaan sosiologis, bagaimana masyarakat berfungsi?
Yang lainnya adalah pertanyaan ontologis dan teologis: apa hakikat manusia, apakah Tuhan ada, dan apakah kehidupan berlanjut setelah kematian?
Menggunakan keberhasilan sosial untuk meniadakan pertanyaan metafisis sama seperti mengatakan, Negara ini memiliki transportasi publik yang sangat baik, maka tidak mungkin ada surga dan neraka.”
Kesimpulannya tidak mengikuti premisnya.
Terus, pasien ateis lebih tenang ketika mati?
Justru bagian ini paling lemah apabila dijadikan argumentasi filosofis.
Anggap saja benar ada seorang perawat yang mendapati sebagian pasien tak beragama lebih tenang menghadapi kematian.
Lalu apa yang dibuktikannya? Yang bisa dibukyikan, hanya keadaan psikologis pasien tersebut. Ketenangan bukan alat ukur kebenaran.
Seseorang dapat sangat tenang sementara keyakinannya salah. Seseorang yang hendak menjalani operasi bisa tenang karena mengira penyakitnya ringan, sementara dokter mengetahui kondisinya serius.
Sebaliknya seseorang dapat cemas terhadap sesuatu yang benar-benar nyata.
Jadi ketenangan psikologis tidak membuktikan kebenaran metafisis apapun. Tidak takut terhadap sesuatu juga tidak membuktikan bahwa sesuatu itu tidak ada.
Seorang balita yang tidak memahami bahayanya bermain di tepi jalan raya yang ramai kendaraan mungkin jauh lebih tenang bermain daripada orang dewasa yang mengetahui akibatnya, sehingga lebih waspada. Apakah ketenangan anak itu membuktikan bahwa tidak berbahaya bermain di tepi jalan yang ramai kendaraan?
Tentu tidak.
Di sinilah konsep Islam tentang khauf, takut kepada Allah, sering disalahpahami. Islam tidak mengajarkan orang beriman hidup dalam kecemasan neurotik.
Takut kepada Allah bukan berarti sepanjang hidup gemetar, panik, depresi, dan tidak menikmati kehidupan.
Khauf dalam Islam adalah kesadaran moral bahwa tindakan mempunyai konsekuensi dan bahwa manusia akan mempertanggungjawabkan hidupnya. Dan ia harus selalu berjalan bersama raja’, yaitu harapan kepada rahmat Allah.
Justru dalam khazanah Ahlulbait As terdapat ajaran yang sangat indah mengenai ketenangan batin.
Imam Ja’far ash-Shadiq As berkata:
إِنَّ اللَّهَ بِعَدْلِهِ وَقِسْطِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالرَّاحَةَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ
“Sesungguhnya Allah, dengan keadilan-Nya, menempatkan ketenteraman dan kenyamanan dalam keyakinan dan keridaan, serta menempatkan kegelisahan dan kesedihan dalam keraguan dan ketidakpuasan.”
Riwayat ini berasal dari al-Kafi dan juga dinukil dalam Wasa’il al-Shi‘ah.
Jadi gambaran Islam justru sebaliknya: iman yang matang bukan sumber kepanikan eksistensial; yaqin dan ridha seharusnya melahirkan ketenteraman.
Rasulullah Saw meriwayatkan firman Allah (hadits qudsi):
وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَجْمَعُ عَلَى عَبْدِي خَوْفَيْنِ، وَلَا أَجْمَعُ لَهُ أَمْنَيْنِ؛ فَإِذَا أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِذَا خَافَنِي فِي الدُّنْيَا آمَنْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan pada hamba-Ku dua ketakutan dan tidak pula dua rasa aman. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, Aku akan membuatnya takut pada Hari Kiamat; dan jika ia takut kepada-Ku di dunia, Aku akan memberinya keamanan pada Hari Kiamat.”
Hadis ini terdapat dalam sumber Syiah maupun Sunni.
Inilah paradoks yang kerap disalahpahami.
Orang beriman memikirkan akhirat sekarang justru supaya tidak perlu takut ketika akhirat datang. Kecemasan moral di dunia bukan tujuan akhir. Ia adalah alarm.
Seperti seseorang yang rajin memeriksa kesehatan bukan karena ingin sepanjang hidup ketakutan terhadap penyakit, tetapi justru karena ingin selamat ketika penyakit datang.
Al-Qur’an bahkan mengatakan hal yang sama
Al-Qur’an mengatakan:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut akan kedudukan di hadapan Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. an-Nazi‘at 79:40–41)
Perhatikan susunannya.
Takut kepada Allah bukan berhenti pada rasa takut.
Ia menghasilkan kesadaran kemudian pengendalian diri terus tanggung jawab moral dan keselamatan.
Dalam riwayat Imam Shadiq as, “takut akan kedudukan di hadapan Tuhan” dijelaskan sebagai kesadaran bahwa Allah melihat, mendengar dan mengetahui perbuatan manusia sehingga kesadaran tersebut mencegahnya melakukan keburukan. Riwayat ini terdapat dalam al-Kafi.
Jadi takut kepada Tuhan dalam Islam justru merupakan mekanisme internal moralitas. Bukan ketakutan irasional.
Bahkan Rasulullah menghubungkan orientasi akhirat dengan ketenangan di dunia.
Ada lagi hadis Nabi Saw:
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ…
“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai perhatian utamanya, Allah menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan menghimpunkan urusannya…”
Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai perhatian utamanya, kemiskinan seakan terus berada di depan matanya dan urusannya tercerai-berai. Hadis ini diriwayatkan dari Anas bin Malik dalam Jami‘ at-Tirmidzi no. 2465 dan memiliki jalur penguat yang membuatnya dinilai sahih li-ghairihi oleh al-Albani.
Ini menarik sekali karena Nabi tidak berkata:
“Orang yang memikirkan akhirat akan hidup ketakutan.”
Justru ketika akhirat menjadi orientasinya maka hatinya menjadi kaya dan hidupnya lebih teratur.
Dengan kata lain, kesadaran akan “kefanaan dunia” justru membebaskan manusia dari kebutuhan untuk menggenggam dunia secara panik.
Persoalannya bukan: “Bisakah manusia baik tanpa agama?” Tentu manusia dapat melakukan banyak kebaikan meski tidak beragama.
Pertanyaan Islam jauh lebih dalam, Mengapa kebaikan itu pada akhirnya wajib dilakukan?
Mengapa saya harus berlaku adil ketika ketidakadilan menguntungkan saya dan tidak seorang pun mengetahuinya?
Mengapa kehidupan seorang manusia mempunyai nilai intrinsik?
Mengapa mengkhianati seseorang tetap salah meskipun saya berhasil lolos dari hukum dan masyarakat bahkan memuji saya?
Sistem hukum dapat mengatur perilaku. Empati dapat mendorong kebaikan. Negara kesejahteraan dapat mengurangi sebagian motif kejahatan. Tetapi semuanya belum menjawab pertanyaan terakhir bahwa,
Apakah baik dan buruk hanya merupakan kesepakatan manusia, atau mempunyai realitas moral yang melampaui kesepakatan manusia?
Itulah wilayah filsafat moral dan agama, bukan statistik kriminalitas.
Dan ada pertanyaan yang lebih tidak nyaman,
Katakanlah seseorang menjalani hidup selama 80 tahun dalam ketenteraman, mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik, tidak pernah merasa membutuhkan Tuhan, kemudian meninggal dengan sangat tenang.
Jika memang tidak ada kehidupan setelah mati, selesai. Tetapi jika kehidupan setelah mati ada, ketenangan beberapa menit menjelang kematian tidak mengubah apa pun.
Karena itu orang beriman memandang persoalan kematian bukan hanya “Apakah saya merasa tenang ketika mati?” melainkan “Apa yang terjadi setelah saya mati?”.
Itu dua pertanyaan yang sangat berbeda.
Dan justru Rasulullah Saw mengajarkan logika yang sangat dalam bahwa “jangan merasa terlalu aman sekarang” hanya karena pengadilan belum dimulai.
Takutlah dalam pengertian sadar, bertanggung jawab, mengoreksi diri dan tidak merasa bebas dari pertanggungjawaban agar kelak memperoleh keamanan ketika manusia benar-benar membutuhkannya.
Jadi, kalau ada yang berkata “Mereka tidak memikirkan surga dan neraka dan ternyata hidup mereka tenang.”
Jawabannya sederhana…
Tidak memikirkan suatu kemungkinan tidak membuktikan bahwa kemungkinan itu tidak nyata. Dan bagi seorang mukmin, tujuan hidup bukan sekadar mati dengan tenang.
Tujuannya adalah hidup dengan benar, mati dengan iman, dan bangkit dalam keadaan aman.
فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih.”
Begitu yang disebutkan dalam Alquran.
Itulah ketenangan yang dicari agama, bukan sekadar ketenangan beberapa menit sebelum jantung berhenti, melainkan ketenangan ketika seluruh manusia dibangkitkan dan segala sesuatu yang selama hidup dianggap tidak penting ternyata menjadi kenyataan.
Begitu…








“Wahai jin dan manusia yang belum beriman kepada Allah; jika selama hidup di dunia kalian tidak pernah mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan selalu mengingkari kebenaran Islam, sedikitpun itu tidak akan merugikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kalianlah yang sangat merugi dan sangat menyesal di akhirat nanti, semoga cahaya hidayah akan sampai untuk kalian semua…!!!”