“Epstein Files membenarkan Teori Konspirasi – bahwa dunia ini dikuasai dan dikawal penyembah Syaithan” ?

✍🏻Ayman Rashdan Wong

Ini tampaknya menjadi sentimen banyak orang selama dua atau tiga hari terakhir: sejak Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis Berkas Epstein secara online. https://www.justice.gov/epstein

Setelah itu, linimasa dipenuhi dengan kalimat-kalimat seperti “Tuhkan benar,” “Orang-orang selama ini mengatakan ini cuma teori konspirasi,” “Sekarang semuanya terbukti.”

Bagi mereka yang tidak benar-benar mengikuti kasus ini, File Epstein merujuk pada kumpulan dokumen, email, foto, kesaksian, dan catatan yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein. Ada 3 juta lebih dokumen File Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman AS.

Epstein adalah seorang konglomerat Yahudi AS yang memiliki hubungan dekat dengan orang-orang berpengaruh: politisi, pengusaha, bangsawan, selebriti, dan tokoh global.

Ia ditangkap pada tahun 2019 dan didakwa dengan perdagangan manusia, terutama gadis di bawah umur, kepada kalangan elit.

Namun sebelum diadili dan dijatuhi hukuman, Epstein meninggal dalam tahanan dalam keadaan mencurigakan.

Versi resminya: bunuh diri. Versi yang lebih banyak dipercaya publik: dia dibunuh karena mengetahui terlalu banyak rahasia yang dapat menjatuhkan orang-orang besar.

Setelah kematian Epstein, tersebar cerita bahwa semua bukti (email, rekaman, daftar klien) sebenarnya berada di tangan FBI dan Departemen Kehakiman AS, tetapi sengaja disimpan karena mereka ingin “menutupi” orang besar ini.

Jadi, isu ini menjadi modal politik. Saat itu Presidennya adalah Joe Biden (dari Partai Demokrat). Lalu Partai Republik mendesak agar berkas-berkas tersebut diungkapkan, sementara menuduh Partai Demokrat tidak ingin mengungkapkannya karena takut banyak tokoh senior partai dan donatur partai akan terungkap.

Partai Demokrat juga mendorong hal yang sama. Tetapi dari era Trump 1.0, ke era Biden, hingga sekarang Trump 2.0, pemerintah AS masih belum sepenuhnya membuka berkas-berkas tersebut.

Dan di sinilah muncul spekulasi bahwa Trump dan Biden sebenarnya terlibat dalam kejahatan Epstein. Itulah mengapa mereka tidak ingin mengungkapkannya, takut akan terbongkar.

Setelah bertengkar dengan Trump pasca Pilpres, Elon Musk (yang dulunya pendukung dan donatur Trump) bahkan mengatakan bahwa nama Trump ada dalam berkas-berkas tersebut. Ironisnya, namanya sendiri juga ada di sana. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada orang ini.

(Tetapi keberadaan nama dalam berkas tidak berarti dia bersalah, terkadang nama hanya disebutkan, meskipun orang tersebut bahkan tidak mengenal Epstein. Anda harus membaca konteksnya)

Ada teori bahwa Epstein sebenarnya adalah agen Mossad (karena Epstein beragama Yahudi), yang digunakan untuk menjebak tokoh-tokoh besar di dunia melalui skandal, kemudian digunakan sebagai alat untuk kontrol politik.

Ada juga versi Rusia dari teori tersebut, karena banyak gadis yang terlibat berasal dari Rusia, konon Putin menyimpan foto atau rekaman tidak senonoh Trump. Itulah mengapa Trump tampak takut dan lemah saat menghadapi Putin.

Bagaimanapun, pada akhirnya, Kongres AS hampir dengan suara bulat mengesahkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein pada 19 November 2025. 427 suara mendukung, hanya 1 menentang.

Trump menandatangani undang-undang tersebut. Berkas itu akhirnya dibuka (walau tertunda dari jadwal seharusnya).

Dan isinya menjijikkan: email Epstein yang mengungkap jaringan koneksi, kesaksian korban yang mengungkap kisah gelap dunia elit, dan tuduhan bahwa elit ini melakukan ritual aneh, termasuk unsur-unsur Satanisme (pemuja Setan).

Tidak heran jika banyak orang, terutama mereka yang berpegang pada narasi “teori konspirasi”, merasa ini adalah momen validasi terbesar dalam hidup mereka: dunia memang dikuasai oleh para pemuja Setan.

Masalahnya, di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berpikir lebih tenang.

Pertama-tama, apa itu teori konspirasi?

Ada banyak definisi, tetapi definisi yang paling umum, dan yang saya singgung dalam buku saya Challenging Conspiracy Theories,

Teori Konspirasi adalah “Kepercayaan bahwa peristiwa besar dunia sepenuhnya dirancang, dikawal dan ditentukan oleh satu kumpulan tersembunyi yang maha berkuasa, hampir tanpa kegagalan.”

Penting untuk diklarifikasi: menentang teori konspirasi bukan berarti menyangkal keberadaan kejahatan elit. Bukan berarti menyangkal keberadaan para pemuja Setan. Ini bukan berarti menyangkal pekerjaan kotor mereka yang berada di puncak.

Semua itu memang ada. Kasus Epstein membuktikannya.

Namun, anggapan bahwa politik dunia sepenuhnya dikendalikan oleh satu kelompok, seolah-olah dunia adalah papan catur yang digerakkan oleh satu tangan atau satu “pion,” itu yang bermasalah.

Hakikatnya politik dunia bersifat anarki. Tidak ada penguasa dunia. Tidak ada “bos terakhir”. Yang menentukan arahnya adalah keseimbangan kekuasaan.

Ini bukan berarti “tidak ada rencana/makar/desain yang dirancang”. Tentu saja, setiap negara, setiap kelompok, dan setiap elit memiliki rencananya sendiri. Tetapi rencana tidak sama dengan kendali absolut.

Misalnya, dalam berkas Epstein, diduga ada rencana yang terkait dengan Revolusi Ukraina 2014, yang menyebabkan kekacauan dalam hubungan Rusia-Ukraina.

Ukraina berpaling dari Rusia, Rusia memasuki Ukraina dan mengambil alih Krimea. Ketegangan ini akhirnya menjadi penyebab utama Perang Ukraina saat ini.

Tetapi setelah 12 tahun perang, apa sebenarnya yang “berhasil” dengan konspirasi Ukraina ini?

Rusia masih bertahan, meskipun melemah. Masa depan Ukraina masih belum pasti. Blok Barat semakin terpecah belah mengenai isu Ukraina. Blok Alternatif juga semakin menonjol.

Ini menunjukkan satu hal: “Memiliki rencana” tidak sama dengan “mengendalikan dan memerintah”.

Inilah nuansa yang membedakan orang-orang yang menerima teori konspirasi sepenuhnya dari mereka yang tidak.

Orang-orang yang menolak teori konspirasi bukan berarti mereka naif. Memang benar ada jaringan elit Yahudi yang berpengaruh. Rothschild mendukung Zionisme, itu semua fakta.

Tetapi sejauh mana pengaruh itu benar-benar diterjemahkan ke dalam realitas geopolitik bergantung pada kekuatan nyata, bukan hanya keberadaan sebuah rencana.

Misalnya, orang-orang mengatakan bahwa kasus Epstein adalah jebakan bagi Trump untuk menyerang Iran.

Tetapi sampai sekarang, serangan itu belum dimulai (meskipun saya juga percaya bahwa akan ada serangan). Jika “Trump sudah dikendaikan”, mengapa tidak menyerang segera?

Alasan untuk menyerang juga harus melihat ke kiri dan ke kanan. AS kuat, tetapi bukan kekuatan absolut.

Ada faktor Rusia, faktor Tiongkok, faktor Arab, faktor Turki, dan berbagai faktor lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menyerang Iran.

Jadi faktor keseimbangan kekuatan > konspirasi.

Saya juga cenderung setuju dengan banyak teman di The Patriots: kasus Epstein sebenarnya menunjukkan lebih banyak kelemahan teori konspirasi.

Jika semuanya benar-benar dikendalikan, bagaimana mungkin Kongres AS sendiri, sebuah lembaga yang seharusnya berada di bawah kendali elit, dapat mengesahkan undang-undang untuk mengungkap semua ini?

Jika semuanya dikendalikan, bagaimana mungkin Epstein ditangkap, diadili, dan akhirnya diungkap meskipun ia memiliki semua perlindungan?

Ini menunjukkan poin penting: Konspirasi memang ada, tetapi mereka tidak mahakuasa.

Dunia ini bukan tentang “siapa yang memiliki rencana”, tetapi tentang siapa yang paling berkuasa. Dan kekuasaan itu selalu diperebutkan.

Masalah utama dengan teori konspirasi absolut adalah bahwa teori tersebut menciptakan orang-orang yang pasif dan fatalistik. Mentalitas “untuk apa melakukan sesuatu, semuanya dikendalikan”.

Padahal kenyataannya, dunia ini anarkis. Siapa pun yang memiliki kekuasaan (ekonomi, militer, teknologi, budaya, ideologi), adalah orang yang dapat memengaruhi arah sejarah. Tidak masalah apakah Anda Yahudi, Tionghoa, Arab, atau Melayu.

Jika kita berpikir bahwa dunia saat ini jahat, korup, dan menindas, itu bukanlah alasan untuk menyerah, atau “menolak dunia”.

Sebaliknya, seharusnya menjadi tanggung jawab, terutama bagi umat Muslim, untuk membangun kekuatan yang membawa cahaya baru, bukan hanya menyalahkan “tangan-tangan yang tak terlihat”.

Singkatnya, Kasus Epstein tidak membuktikan bahwa dunia dikuasai sepenuhnya oleh kelompok rahasia.

Untuk memahami geopolitik dan konflik global, lensa realis yang berbasis pada kekuasaan masih lebih relevan dan lebih akurat.

(dari fb penulis)

Komentar