Elit Iran Solid Dukung Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Baru Revolusi Islam

Sejumlah pejabat tinggi Republik Islam Iran menyatakan dukungan penuh terhadap kepemimpinan baru setelah Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei resmi terpilih sebagai Pemimpin Revolusi Islam.

Majelis Ahli Iran pada Minggu malam secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei, 56 tahun, sebagai Pemimpin Revolusi Islam sekaligus Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran. Ia merupakan putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, yang wafat dalam kondisi gugur.

Dalam pernyataan resminya, Majelis Ahli menyebut keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara yang tegas.

“Dengan suara mayoritas yang menentukan, Majelis Ahli menetapkan Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Proses transisi kepemimpinan yang berlangsung cepat dan relatif mulus dinilai mencerminkan kuatnya fondasi sistem Velayat-e Faqih, yang selama ini menjadi pilar utama dalam struktur politik Iran sekaligus menjamin kesinambungan Revolusi Islam di tengah berbagai tekanan eksternal.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dalam pernyataannya memuji keputusan Majelis Ahli sebagai langkah yang “tepat dan tegas” di tengah suasana duka nasional.

Menurut Qalibaf, pemilihan Mojtaba Khamenei memberikan Iran sosok pemimpin yang religius, revolusioner, dekat dengan rakyat, berani, serta memiliki kemampuan manajerial dan pandangan strategis terhadap perkembangan zaman.

Ia juga menegaskan bahwa kepatuhan terhadap pemimpin tertinggi baru merupakan kewajiban religius sekaligus tanggung jawab nasional, sebagaimana loyalitas yang pernah diberikan kepada Imam Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei.

Qalibaf mengutip pesan terkenal Imam Khomeini yang menyerukan dukungan terhadap sistem Velayat-e Faqih agar negara tetap terlindungi dari ancaman.

Senada dengan itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan apresiasi kepada Majelis Ahli yang tetap menggelar sidang meski di tengah situasi penuh tekanan, termasuk ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Larijani menilai proses pemilihan berlangsung sesuai prosedur hukum yang berlaku di Iran.

“Di tengah berbagai upaya musuh untuk menciptakan kebuntuan politik melalui rencana pembunuhan terhadap Imam Khamenei, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei justru terpilih melalui proses hukum yang sah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sejumlah dinamika yang sempat muncul selama masa transisi berhasil diselesaikan melalui mekanisme yang transparan oleh Majelis Ahli.

Larijani juga menilai Mojtaba Khamenei memiliki bekal kepemimpinan yang kuat karena tumbuh dalam lingkungan kepemimpinan sejak lama.

“Insyaallah pengangkatannya akan membawa kebaikan dan keberkahan. Ia dapat memimpin negara dengan pelajaran yang ia dapat dari ayahnya,” kata Larijani.

Ia berharap di bawah kepemimpinan baru tersebut Iran dapat terus bergerak menuju pembangunan dan stabilitas yang lebih kuat.

Sementara itu, Seyyed Hassan Khomeini, cucu dari pendiri Republik Islam Iran Imam Khomeini sekaligus penjaga kompleks makam sang pendiri revolusi, menegaskan bahwa jalan Revolusi Islam akan terus berlanjut di bawah kepemimpinan baru.

Menurutnya, proses hukum yang berjalan di dalam sistem Iran telah membuktikan ketahanan struktur politik negara tersebut.

Ia menggambarkan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai simbol kesinambungan sekaligus harapan baru bagi umat Islam. Dukungan dari tokoh yang memiliki hubungan langsung dengan garis sejarah revolusi itu juga dinilai memperkuat legitimasi moral dan spiritual kepemimpinan baru Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Selamat buat rakyat Iran dg terpilihnya pemimpin spiritual yg baru secara demokratis. Meski ini anak dr pemimpin sebelumnya, tp bukan lewat cawe2 bapaknya dan bantuan pamannya dg merubah UU melalui MK. Tdk spt di negeri konoha …