Diperlakukan Seperti Anjing

PENISTAAN RAKYAT KECIL

  1. Dagangannya diremas, dibejek, dilempar, dan dihancurkan hingga meleleh.
  2. Diinterogasi secara kasar, dipermalukan di depan umum. Divideokan oleh aparat dan diviralkan.
  3. Dianiaya secara fisik, termasuk ditonjok, disabet dengan selang air, ditendang, dan kaki disuruh diangkat-angkat sambil disabet.
  4. Diperlakukan “kayak anjing” sehingga trauma berat hingga takut berjualan lagi.
  5. “Makan ni makan habisin kamu telen. Yang modar biar kamu, jangan anak-anak kecil kasihan itu, telan!,” kata sang aparat tentara itu.

Kasus seperti ini bukan hal baru — ketidakadilan hukum atau penyalahgunaan wewenang oleh oknum aparat terhadap warga kecil (pedagang kaki lima, tukang ojek, dll.), sementara konsekuensi hukumnya tidak tegas atau merata.

Tenang, cukup meminta maaf semuanya akan selesai. Sementara itu, beberapa aktivis yang mengkritik memprotes menguliti kebijakan pemerintah dan aparatnya, dipenjara!

Memang, kita sebagai rakyat biasa ini bisa ngapain lagi? Paling-paling cuma bisa ngerasain sakit hati, kesel banget, marah-marah dalam hati, dan paling jauhnya cuma curhat atau ngelepas emosi di medsos kayak gini. Itu pun harus hati-hati banget milih kata-kata biar nggak kena pasal UU ITE atau dianggap provokasi hingga dianggap penghinaan agama seperti Pandji.

Ini “masalah kecil” tapi kalau dibiarkan berulang, berpotensi memicu ketidakpercayaan besar terhadap institusi, bahkan seperti efek bola salju yang bisa dianalogikan dengan revolusi di Timur Tengah (Arab Spring dimulai dari insiden Mohamed Bouazizi, pedagang sayur yang disita gerobaknya oleh polisi dan kemudian membakar diri).

Pembinaan aparat di lapangan memang krusial: edukasi prosedur, pengendalian diri, verifikasi fakta sebelum bertindak, dan penegakan disiplin internal yang konsisten. Tanpa itu, kepercayaan publik bisa terus terkikis.

Semoga Bapak Suderajat bisa pulih trauma dan usahanya bangkit lagi. Kasus ini jadi pengingat buat semua pihak agar lebih hati-hati dan manusiawi dalam menjalankan tugas. Terlebih, bapak2 aparat ber-Agama kan?

(Ruly Achdiat Santabrata)

Komentar