Di tengah dentuman meriam dan parit berlumpur Perang Dunia I, ada “pahlawan” kecil berbulu yang jasanya jarang tercatat sejarah, namun keberadaannya bisa menentukan hidup dan mati.
Kucing bukan sekadar hewan lucu di medan perang. Di parit-parit pertahanan dan kapal perang, mereka menjadi penjaga senyap yang mengendalikan serbuan tikus pembawa penyakit dan perusak logistik.
Saat tentara bertarung melawan musuh, kucing bertarung melawan ancaman yang tak kalah mematikan seperti wabah, kelaparan, dan kerusakan perlengkapan.
Kucing juga menjadi “alarm hidup” dan penguat mental. Banyak tentara mempercayai perubahan perilaku kucing sebagai tanda bahaya, bahkan sebelum serangan terjadi.
Di tengah tekanan perang yang brutal, kehadiran mereka memberi rasa tenang.







Komentar