Buku “Memburu Muhammad”, Menjual Sensasi dan Provokasi

Kalau bukunya cuma dikasih judul “Kritik Sosial di Era Modern” atau “Potret Kemunafikan Beragama“. Mungkin gak bakal ada yang ribut, padahal isinya bisa jadi sama persis.

Tapi begitu judulnya diubah jadi “Memburu Muhammad” atau “Bukan Perawan Maria”, yang dijual ya bukan lagi gagasan atau kritik sosialnya. Yang dijual adalah sensasi dan provokasi.

Makanya netizen menilai buku ini sengaja dibuat di tepi jurang demi cari perhatian, bukan murni buat menyampaikan pesan literasi.

Begitu ada reaksi keras, seperti pembatalan acara, itu malah jadi bahan bakar gratis. Bukunya terus dibicarakan orang, meskipun lewat cara yang kontroversial. Lalu ada pembelaan: jangan dulu komentar sebelum membaca isinya. Kalau ingin baca isinya artinya kita harus beli dulu. Begitulah marketingnya 😅

(M Maki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Dulu ada pepatah Arab yg berbunyi “jika ingin terkenal kencingi sumur zamzam”. Banyak pengarang buku, tukang konten, caleg bahkan penjual makanan yg berlaku sama … bikin sesuatu yg sensasional, kalo sdh terkenal mjd laku krn bikin orang penasaran, padahal isinya biasa sj …