BUDEK
“Pak, kabinetnya kegemukan. Katanya mau efisiensi. Semakin banyak menteri, semakin banyak anggaran yang dibutuhkan, dan semakin sulit koordinasi.”
“Gemuk ndasmu!”
“Pak, orang-orang yang bapak pilih, terutama sisa-sisa rezim sebelumnya, rata-rata orang-orang bermasalah. Ganti aja, Pak! Terutama yang jadi beking bandar judi.”
“HIDUP JOKOWI! HIDUP JOKOWI!”
“Pak, program MBG tolong dievaluasi. Selain terlalu membebani APBN, banyak makanan terbuang, terutama di kota-kota besar. Mubadzir. Kalau mau dilanjutkan, sebaiknya prioritaskan daerah-daerah yang angka stuntingnya tinggi, dan perbaiki menunya.”
“Kalian orang-orang yang tidak ingin melihat Indonesia maju. Antek-antek asing.”
“Pak, kondisi perekonomian sudah meresahkan. Daya beli menurun. PHK di mana-mana. Banyak usaha yang tutup karena kekurangan konsumen. Banyak kredit macet. Pungutan liar dan resmi semakin membebani pengusaha. Gelap, Pak!”
“Menurut BPS, angka pengangguran menurun drastis. Terendah sejak 98. Pertumbuhan ekonomi juga naik signifikan. Yang bilang Indonesia gelap, ndasmu!”
“Pak, anak buah bapak kelakuannya semakin memprihatinkan. Ngomong suka sembarangan. Sering nggak pakai otak. Kolega-kolega Bapak di dewan juga begitu.”
Lalu beliau bagi-bagi penghargaan untuk orang-orang terdekatnya. Permintaan kenaikan gaji dewan pun di setujui, walaupun akhirnya dianulir.
Akibat beban hidup yang semakin berat akibat 10 tahun kebijakan yang salah arah, sementara korupsi semakin merajalela, dan di atas orang-orang yang mereka pilih berpesta pora, akumulasi kekecewaan semakin mengeras, lalu meledaklah kerusuhan itu, dipicu kelakuan oknum pengayom dan pelindung masyarakat yang brutal.
Beliau:
“Rakyat percayalah pada pemerintahan yang saya pimpin! Saya mendengar keluhan kalian…”
BUDEK.
(Wendra Setiawan)






Komentar