NYANGKUT BARENG BOY THOHIR & TELKOMSEL
Oleh: Agustinus Edy Kristianto
Dalam hidup maupun bisnis, kata Garibaldi (Boy) Thohir, ada kalanya seseorang mendapat untung dan ada kalanya merugi (Katadata, 13/10/2026). Konteksnya, kakak bekas Menteri BUMN Erick Thohir itu mengaku rugi besar alias nyangkut di saham GOTO. Ia menggenggam 1 miliar lebih saham GOTO yang kini harganya Rp28 per lembar (ketika status ini ditulis). Cut loss-nya terlalu banyak. “Udahlah diamin aja, nanti kita liat.”
Ia terdengar bijak, tapi benarkah begitu?
Saya kutip dari Prospektus GOTO sendiri. Nama Garibaldi Thohir muncul sebagai pemegang saham GOTO pada 14-15 September 2021 (sebelum IPO), dari pengalihan 3.961 Saham Seri D milik treasuri perusahaan. Menurut Laporan Keuangan GOTO 2021, nilainya dibayar Rp283,9 miliar atau Rp71,7 juta per saham. Setelah stock split 1:266.167, kepemilikannya menjadi 1,05 miliar lembar atau setara Rp269 per lembar (porsi saat itu 0,12%).
Harga pembelian Rp269 per lembar itu nyaris sama persis dengan harga ketika Telkomsel, anak usaha BUMN Telkom, membeli saham GOTO senilai Rp6,4 triliun atau setara 23,7 miliar lembar (sekitar Rp267-270 per lembar).
Artinya, secara tidak langsung Boy Thohir mengakui bahwa Telkomsel pun nyangkut dan rugi besar di saham GOTO. Tapi bedanya, kita tak perlu pedulikan kerugian investasi personal Boy Thohir itu. Yang harus kita pedulikan adalah kerugian keuangan negara di Telkomsel/Telkom akibat saham GOTO. Jika saat ini harga GOTO Rp28, maka kerugian (floating loss) Telkomsel mencapai sekitar 90% atau setara Rp5,74 triliun.
Jika kelak kasus investasi Telkomsel-GOTO menjadi perkara tipikor, tak akan ada gunanya dalih bahwa Boy Thohir pun mengalami kerugian yang sama. Itu bukan alasan pembenar atau pemaaf dalam hukum pidana. Yang perlu kita lihat adalah rangkaian perbuatan dan peristiwa ketika investasi itu dilakukan pada 2020-2021.
Pertanyaan simpelnya: apa dasarnya Telkomsel/Telkom berinvestasi Rp6,4 triliun di perusahaan start-up yang rugi sejak didirikan, masih rugi ketika dibeli, dan tidak menjamin keuntungan di masa depan seperti kata Prospektusnya sendiri? Apa pula dasarnya Telkomsel/Telkom berinvestasi di perusahaan yang Presiden Komisarisnya adalah kakak dari Menteri BUMN-nya sendiri?
Jangan pula dipikir Boy Thohir adalah ritel biasa yang beli di harga sekian terus sekarang turun ke harga sekian. Dokumen (prospektus, akta, laporan keuangan, dan sebagainya) menunjukkan dia merangkap berbagai posisi strategis dalam perjalanan investasi GOTO dari hulu ke hilir. Ia Presiden Komisaris Gojek, cikal bakal GOTO (2019); pemegang saham GOTO (September 2021); pengendali salah satu penjamin pelaksana emisi (joint lead underwriter) IPO GOTO pada April 2022, yakni PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM); lalu pengendali manajer investasi yang mengelola dana GOTO (2022), yakni Trimegah Asset Management.
Boy meneken perjanjian pembelian saham TRIM dari Northstar Group (didirikan Patrick Walujo) pada 22 Desember 2021, dan akuisisi itu tuntas pada Mei 2022 dengan kepemilikan 34,64%. Sementara itu, dana GOTO di Trimegah Asset Management tercatat Rp402,5 miliar (Desember 2020), Rp627 miliar (Juli 2021), Rp346,7 miliar (Desember 2021), dan Rp177,1 miliar (Desember 2022).
Kalau saya baca, sifat pihak berelasi ini tidak pernah diungkap, baik di masa Northstar (2020-2021) maupun di masa Garibaldi (2022-2023). Trimegah selalu dicatat di laporan keuangan GOTO sebagai pihak ketiga.
Bayangkan, dengan rangkap posisi berurutan itu ditambah statusnya sebagai kakak Menteri BUMN, ia mengalami kerugian besar dalam investasinya. Apakah sebegitu tidak becusnya dia sebagai investor? Apakah sebegitu buruknya ia sebagai “pemain” pasar, karena sudah begitu terang-terangan namanya tercatat dalam dokumen (tidak memakai tangan orang/pihak lain), merugi besar pula?
Tapi bukankah sebenarnya kerugian Boy juga tidak sesederhana itu? Perusahaan yang dia kendalikan, Trimegah, mendapat fee sebagai penjamin emisi IPO GOTO, dan anak usahanya mengelola reksadana berisi dana GOTO ketika ia masih menjabat Komisaris Utama GOTO.
Jadi jelas, masalahnya tidak semudah berkata bijak “dalam hidup…” supaya orang bersimpati pada kerugian investasi personalnya. Tapi ia diam saja ketika investasinya untung di atas kertas saat GOTO IPO di harga Rp338 (meskipun saya tidak menemukan catatan atau dokumen bahwa ia menggadaikan atau menjual sahamnya pada harga IPO itu). Ia juga diam saja mengenai keuntungan lain yang mengalir ke perusahaan yang ia kendalikan, seperti fee penjaminan emisi IPO GOTO dan fee pengelolaan reksadana dana GOTO.
Pelajaran penting dari pernyataan “dalam hidup” Boy Thohir adalah kita bisa membedakan dua jenis kerugian dalam investasi. Pertama, kerugian uang Telkomsel sebagai kekayaan anak usaha BUMN, yang investasinya diputuskan saat adik Boy Thohir menjabat Menteri BUMN. Kedua, kerugian investasi pribadi Boy Thohir di saham GOTO.
Kerugian jenis pertama harus kita perhatikan dan tuntut untuk diusut secara hukum karena menyangkut keuangan negara. Kerugian jenis kedua harus kita abaikan dan jangan diberi panggung, karena tidak ada pentingnya buat kehidupan kita sebagai bangsa.
Salam,
AEK








E G P
YNKTS
harusnya londo sipit ini dibuang kehutan kalimantan yg karhutla biar matanya tam ah sipit
zaman Erick meneg BUMN perusahaan kyk punya Dia sendiri..masa penjilad, buzzer, pemain gitar diangkat jd komisaris dan direksi
kebangetan ni orang😡