BOARD of PEACE

BOARD of PEACE

✍🏻Made Supriatma

Masih ingat proyek Trump di Gaza yang dinamakan “Board of Peace”? Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi ‘founding member’ dari badan tersebut. Dan, seperti yang saya tulis pagi tadi, Jared Kushner, menantunya Trump akan menjadi pelaksana proyek tersebut.

Ada beberapa hal yang tadi pagi belum saya ketahui tentang Board of Peace ini. Ketuanya adalah … ya ketuanya: Donald J. Trump. Dan Trump mengangkat dirinya sendiri. Board ini muncul langsung dari kepala Trump. Tidak ada orang memintanya jadi ketua.

Hebatnya lagi, Trump adalah satu-satunya orang yang memiliki hak veto di Board of Peace ini. Dan, dia akan menjadi ketua seumur hidupnya. Bahkan setelah dia tidak lagi jadi presiden.

Lalu Jared Kushner? Dia adalah seorang investor yang memulai karirnya seperti mertuanya: real estate developer. Bapaknya, yang adalah juga real estate developer di New Jersey, pernah masuk penjara karena penggelapan pajak. Dan tentu kekayaan Jared berlipat-lipat setelah mertuanya jadi presiden.

Jared punya proyek tentang Gaza. Anda bisa lihat dalam presentasinya yang gambarnya ada di bawah ini. Lihat saja perencanaan-perencanaan yang ambisius. Jangan salah. Orang-orang ini beneran bisa kerja. Ceteris paribus, artinya kalau keadaan tetap dan tidak berubah serta hanya dalam kertas, ini semua bisa dicapai.

Hanya saja, ada satu yang hilang dari semua perbincangan dan perencanaan ini: penduduk Gaza. Dimana mereka? Itu tidak masuk perbincangan.

Bisa jadi, kemungkinan terbaik, mereka terserap menjadi pekerja alias buruh untuk proyek ini. Tentu, Riviera ini akan sangat bagus dan megah: dibuat oleh si kaya, untuk si kaya, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk si kaya.

Di Amerika sendiri, Board of Peace ini menjadi bahan olok-olok. Komedian-komedian malam seperti Jimmy Kimmel, Stephen Colbert, dan lain sebagainya mengolok-olok karena ujung-ujungnya para pemimpin dunia ini harus membayar ke Trump. Dan, bisa diduga, nanti penerima manfaat terbesar adalah Trump dan keluarganya.

Trump, yang oleh Jimmy Kimmel digambarkan sebagai Gorilla dengan granat tangan, dan kita dipaksa menontonnya dari jarak dekat, tidak pernah jauh-jauh dari melayani dirinya sendiri terlebih dulu. Para komedian ini juga cepat mengamati absennya negara-negara Eropa dan negara-negara maju lainnya sebagai pendukung Board of Peace ini.

Yang mendukung disebutkan Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Hungaria … dan ah, sayangnya tidak ada Indonesia. Saya kadang gemas dan heran, mengapa negara dengan penduduk nomor 4 terbesar di dunia ini tidak pernah disebut-sebut? Ini menjengkelkan sekali. Padahal Trump menepuk-nepuk pundak Prabowo. Trump juga mengundang Prabowo ke Middle East Peace Accord yang ditandatangai di Kairo.

Pemimpin kita lari ke Beijing buru-buru setelah kerusuhan padam pada Agustus tahun lalu. Ini supaya dia bisa berjajar dengan para pemimpin dunia. Namun, dalam foto-foto media internasional, dia malah di-crop dan hilang. Kamera TV tidak diarahkan ke dirinya.

Anda semua tahu bahwa Trump menarik bayaran US$1 milyar atau setara dengan Rp 16,985 triliun untuk menjadi anggota board ini. Itulah harganya bergaul dengan Trump. Sebagian besar negara-negara ASEAN tidak berminat bergabung ke dalam Board, yang oleh Colbert diplesetkan menjadi Bored ini. Hanya Vietnam, yang punya kepentingan ekonomi tinggi dengan AS ikut bergabung. Kalau China sudah pasti tidak diundang karena salah satu tujuannya adalah mencegah pengaruh China.

Juga negara seperti India, Jepang, Korea Selatan, tidak masuk di dalamnya. Negara-negara ini dengan sopan menjawab, “akan mengkaji dulu.” Bahkan Vatikan juga diundang. Jawaban mereka sangat santun, Paus Leo XIV akan mempelajari dulu. Ini adalah kata lain dari “no.”

Mengapa Indonesia begitu mudah ikut dengan Trump? Ataukah seperti kata Presiden Prabowo dalam pidatonya di World Economic Forum, Indonesia tidak ingin bermusuhan dengan siapapun? Tapi, tidak tunduk pada Trump bukan berarti Indonesia bermusuhan dengan AS, bukan? Bukankah banyak negara juga berusaha mengulur waktu — dan tahu pasti bahwa Trump akan lupa, sebelum dia bikin persoalan baru?

Tentu saja, soalnya adalah kita tidak punya uang untuk itu. Kita baru saja narik hutang sebesar Rp832,2 triliun. Dari jumlah itu, Rp599 triliun adalah untuk membayar bunga hutang. Bunga! Bukan pokoknya.

Rp 16,985 triliun itu tidak sedikit. Kita masih punya kewajiban melakukan rekonstruksi daerah-daerah bencana di Sumatra. Banyak daerah kita kebanjiran pada musim hujan ini Semua ini perlu ditangani.

Jadi kita bayar Rp16,985 triliun ini untuk apa? Mungkin orang-orang di pemerintahan akan berargumen, kita perlu untuk menjaga posisi strategis kita terhadap pasar Amerika. Lhah, kalau uang segitu bisa menurunkan tarif mungkin ini bisa dinalar.

Dengan Trump, yang diperlukan adalah proyeksi kekuatan. Banyak pemimpin negara sudah berusaha ‘play it nice with Trump.” Itu gagal. Trump hanya bisa dilawan dengan proyeksi kekuatan. China berhasil keluar dari perangkap Trump. Mereka melawan dan menang. Bahkan Korea Utara juga demikian. Dengan Putin, Trump diperlakukan seolah tikus oleh kucing.

Apa sih susahnya bilang, “Thank you very much. We feel honored and will certainly consider it.” Tidak perlu harus keluar uang Rp 16,985 triliun … yang kita tidak punya. (Lah wong bayar bunga utang aja Rp 599 triliun!)

Komentar