Besok pagi, Selasa 7 April 2026 sekitar pukul 7 WIB (atau Selasa malam waktu Washington), dunia kembali menahan napas. Presiden Donald Trump kembali mengancam Iran dengan serangan dahsyat ke pembangkit listrik dan jembatan-jembatan vital. Dalam postingan Truth Social yang penuh umpatan pada 5 April, Trump menulis: “Tuesday will be Power Plant Day, and Bridge Day, all wrapped up in one… Open the Fuckin’ Strait, you crazy bastards, or you’ll be living in Hell – JUST WATCH!” Deadline ini sudah diundur lagi menjadi Selasa pukul 8 malam ET.
Namun, hampir semua analis sepakat: serangan itu kemungkinan besar batal lagi. Ini bukan prediksi spekulatif, melainkan pola yang sudah berulang. Sejak Maret 2026, Trump sudah mengeluarkan setidaknya tiga ultimatum keras soal Selat Hormuz—mulai dari 48 jam pada 21 Maret, lalu diperpanjang 10 hari, dan kini lagi-lagi digeser. Setiap kali ancaman bombastis muncul, diikuti klaim “negosiasi berjalan baik” dan penundaan.
Mengapa pola ini terus berulang? Karena gaya Trump yang khas: bluster maksimal diikuti mundur taktis. Dia mengancam “membawa Iran kembali ke Zaman Batu”, tapi kemudian memilih jeda demi “deal”. Kritikus menyebut ini bukan strategi cerdas, melainkan kekacauan yang berbahaya. The Guardian menyebut Trump sebagai “commander-in-chaos”—pemimpin yang retorikanya liar, tujuannya kabur, dan sinyalnya campur aduk. Akibatnya, sekutu bingung, musuh semakin nekat, dan harga minyak global terus naik.
Situasi ini semakin diperparah oleh rumor kesehatan Trump yang muncul akhir pekan lalu. White House terpaksa membantah kabar bahwa presiden berusia 79 tahun dirawat di Walter Reed. Meski dibantah, absennya Trump dari publik selama “press lid” justru memicu spekulasi: apakah usia dan tekanan perang membuatnya semakin plin-plan? Banyak pengamat melihat inkonsistensi ini bukan sekadar taktik, melainkan tanda ketidakmampuan mengelola krisis besar.
Dari sisi Iran, responsnya tegas. Tehran menolak ultimatum Trump dan siap balas serangan. Serangan ke infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik berisiko dikategorikan sebagai kejahatan perang, sesuatu yang bahkan sekutu AS pun ragu mendukungnya. Sementara itu, pasar keuangan sudah gelisah: harga minyak naik tajam setiap kali Trump mengancam, tapi turun lagi saat deadline diundur. Investor tahu betul—ini drama lama yang belum berakhir.
Analisis lebih dalam dari The New York Times dan CNBC menunjukkan: Trump memang suka gaya “maximum pressure”, tapi dalam praktiknya sering berujung pada penundaan demi menghindari eskalasi penuh. Hasilnya? Perang yang tak kunjung selesai, stabilitas regional hancur, dan kredibilitas AS sebagai pemimpin dunia semakin pudar. Bukan kemenangan diplomatik, melainkan pertunjukan politik yang mahal bagi rakyat biasa di mana-mana.
Besok pagi, kemungkinan besar kita tak akan melihat rudal AS menghujani Iran. Yang akan terjadi adalah postingan Trump baru yang mengklaim “progress” dan deadline baru lagi. Pola ini bukan kebetulan, ini cerminan kepemimpinan yang lebih mengutamakan drama daripada strategi matang. Dunia sudah lelah dengan siklus ancaman dan kemunduran Trump. Sayangnya, yang menanggung risikonya adalah jutaan orang di Timur Tengah dan konsumen energi global.






